Diterbitkan pada 21 May 2024
Admin
DENGAN SEMANGAT MENJAGA CILIWUNG
Source: -
Bagikan

Awalnya adalah terbentuknya Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) pada Maret 2009 sebagai respons atas kekhawatiran makin banyak sampah yang masuk ke sungai Ciliwung. Sehingga fokus awal dari komunitas ini adalah menyerukan kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai penting di Jawa yang memiliki aliran utama sepanjang hampir 120 km, melintasi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan DKI Jakarta ini.

Pesatnya pembangunan rumah, perkantoran, serta kawasan bisnis juga menyebabkan penyempitan di area bantaran sungai Ciliwung. Ini diikuti oleh banyaknya sampah dan limbah dari berbagai tempat yang dibuang ke sungai Ciliwung. Ini menjadi masalah besar ketika sampah-sampah itu menyumbat aliran air. Selain menimbulkan bau, juga menyebabkan banjir di kawasan bantaran sungai.

Lahirnya komunitas ini awalnya sempat menghadapi cibiran dan dianggap sebagai upaya sia-sia. Sebab, kebiasaan membuang sampah ke sungai Ciliwung itu sudah berlangsung sejak lama. Kalau pun KPC melakukan pembersihan, jumlahnya tidak sebanding dengan yang masuk ke sungai. Cibiran ini tak menyurutkan pegiat KPC.

 

Satgas Naturalisasi Ciliwung

Gerakan KPC ini ternyata menarik perhatian Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto. Walikota lantas memberi dukungan atas gerakan ini dengan membentuk Satgas Naturalisasi Ciliwung pada Oktober 2018. Satgas ini langsung dipimpin Walikota, sekretarisnya Een Irawan Putra, pegiat di KPC yang sehari-harinya sebagai direktur eksekutif Yayasan Rekam Jejak Alam Nusantara.

Anggota satgas awalnya terdiri dari perwakilan Tentara Nasional Indonesia, Aparatur Sipil Negara dan wakil komunitas. Setiap tim dipimpin oleh TNI dari Kodim 0606. Penempatan personel TNI ini sebagai bagian dari shock therapy agar masyarakat mengurangi aktivitas membuang sampah ke sungai.

Seiring berjalannya waktu, komposisi ini diubah karena wakil TNI dan aparatur sipil negara sangat susah mengalokasikan waktu untuk terlibat dalam satgas ini. Pada Juni 2019, ada perubahan drastis di struktur organisasi satgas. Ketua dan sekretaris sama seperti sebelumnya. Sedangkan untuk anggota satgas lebih banyak diisi oleh wakil komunitas dan warga yang berada di sekitar area bantaran Ciliwung.

Satgas membentuk enam tim yang bertanggungjawab atas 13 kelurahan yang berada di Bantaran Ciliwung sepanjang kurang lebih 15 km di Kota Bogor itu. Salah satu programnya adalah mendorong warga di bantaran kali untuk berhenti membuang sampah di sungai. Satgas sebelumnya sudah menetapkan ada 50-56 RT yang diprioritaskan untuk dibantu dalam program ini. Dengan adanya program PSC ini, ada dukungan dana yang diberikan kepada RT prioritas tersebut meski jumlahnya dikurangi menjadi 55.

Pada masa-masa awal itu fokus Satgas bagaimana patroli dilakukan setiap hari. Selain patroli, tim Satgas juga berbicara dengan masyarakat kenapa membuang sampah di sungai. Sebab, bisa saja mereka buang ke sungai karena tidak ada pengangkutan sampah atau karena pemahaman yang sangat minim tentang sampah dan bahayanya jika dibuang ke sungai.

Satgas tentu saja tak bisa hanya memberitahu warga tanpa menawarkan solusi soal sampah ini. Akhirnya Satgas berkomunikasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor untuk diatur jadwal pengangkutan sampah dari daerah ini. Ternyata, untuk masyarakat di bantaran kali itu memang tidak ada pengangkutan sampah. Terutama di lokasi warga yang tinggal sangat dekat dengan bibir sungai.

Meski memiliki dasar hukum berupa surat keputusan walikota, namun anggaran Satgas sangat terbatas. Termasuk untuk pengadaan sarana dan prasarana bagi tugas Satgas. Sehingga kegiatannya menyesuaikan dengan kondisi itu.

Agustus 2021 kota Bogor mendeklarasikan dirinya sebagai kota pertama yang turut serta dalam Plastic Smart Cities. Sebelumnya Kota Bogor sudah mengeluarkan Perwali No.61 Tahun 2018 yang mengatur pengurangan sampah rumah tangga dan sejenisnya. Pelaku usaha maupun produsen kantong plastik juga harus membuat kantong plastik yang ramah lingkungan. 

Saat itu Satgas Naturalisasi Ciliwung Kota Bogor, Yayasan Rekam Nusantara, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor dan Pemerintah Daerah Kota Bogor sepakat untuk mendukung pengurangan sampah plastik ke alam. Kegiatan ini didukung WWF melalui program Plastic Smart Cities (PSC). 

Meski Satgas punya legalitas karena ada surat keputusan dari walikota, namun ada kesulitan tersendiri jika harus melakukan kerjasama langsung dengan WWF-Indonesia. Dengan sejumlah pertimbangan, akhirnya disepakati bahwa program PSC di bantaran Ciliwung ini memakai bendera lembaga Rekam Nusantara dengan WWF. 

Dengan dukungan WWF ini, ada anggaran untuk pengadaan sarana dan prasarana. Termasuk untuk membangun Tempat Pengoalahan Sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di Mekarwangi dan TPST Bantar Kemang. Tempat Pengolahan Sampah Mekarwangi kemudian dipakai untuk mengolah sampah plastik yang low value menjadi bahan material untuk sumur resapan. Sedangkan TPST Bantar Kemang dipakai untuk menampung sampah low value yang nantinya akan dikirim ke Mekarwangi. Sedangkan sampah yang high value akan dijual ke pengepul sampah. 

Di TPST Bantar kemang juga dibuat bangunan kecil semi permanen yang di situ di dalamnya bisa saja sebagai pengolahan sampah organik untuk magot atau untuk komposter misalnya dan tempat penampungan sementara sampah plastik. Dengan adanya TPST Bantar Kemang itu, maka Satgas mulai mendorong warga melakukan pemilahan sampah dari rumah.

 

TPS 3R Mekarwangi

Untuk pembangunan TPS 3R, pembangunan dan mesin pengolah sampahnya didukung dari pendanaan program PSC. Untuk pengadaan lahannya Satgas berbicara dengan Walikota. Walikota membantu dengan mencarikan lahan yang masih tersedia dan ditemukan ada lahan di Mekarwangi. Setelah ditelusuri, ternyata itu lahan Dinas Pendidikan. Sehingga diputuskan lahan itu yang dipakai dengan pertimbangan bahwa TPS ini bisa juga sebagai area edukasi.

Pembangunan TPS 3R itu di Mekarwangi dan juga Bantar Kemang dimulai pada pertengahan tahun dan rampung pada akhir tahun 2022 itu. Luas lahan di Mekarwangi itu kurang lebih 5.000 meter persegi, meski yang dimanfaatkan untuk bangunan TPS baru 1.000 meter persegi. Untuk sarana pendukung lain, seperti mesin pencacah sampah plastik, Satgas menggandeng kelompok anak muda Sumpah Sampah yang berada di Citereup Bogor.

Beberapa tahun sebelumnya Sumpah Sampah memenangkan lomba teknologi pengolahan sampah. Saat itu mereka membuat inovasi teknologi berupa mesin pencacah, yang fungsinya melumerkan plastik. Satu mesin lagi berfungsi mencetak plastik menjadi lembaran-lembaran. Sumpah Sampah setuju mendukung TPS 3R Mekarwangi itu dan menjadikannya sebagai laboratorium bersama.

Prinsip penting dari pembangunan TPS 3R Mekarwangi adalah mengurangi sampah plastik tertolak atau yang tidak memiliki nilai ekonomis menjadi produk alternatif yang bermanfaat. Tujuan utamanya untuk mengubah perilaku masyarakat sekitar bantaran sungai Ciliwung dan memfasilitasi pengelolaan sampah menjadi produk sehingga mengurangi sampah yang akan berakhir di di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Galuga.

Setelah beroperasi, TPS 3R Mekarwangi memproduksi balok, papan dan kaso dengan kapasitas pengolahan maksimal 800 kg/hari. Target produksinya yaitu menghasilkan 6 paket, 1 paket berisi 13 papan, 12 kaso dan 2 papan penutup dalam 1 hari. Produk yang dihasilkan dijadikan sebagai bahan material pembuatan sumur resapan oleh usaha yang bergerak di bidang konsultan lingkungan, penyedia alat monitoring, inovasi lingkungan, dan pengembangan masyarakat.

Sarana dan prasarana yang tersedia di TPS 3R Mekarwangi, selain mesin pengolah sampah plastik menjadi produk, juga ada mobil sebagai alat pengangkut sampah. Dengan mulai beroperasinya TPS 3R ini, maka perlu lebih intensif edukasi pemilahan sampah kepada masyarakat, terutama dalam soal pemilahan sampah.

Salah satu tugas Satgas adalah mendampingi RT yang masuk dalam prioritas program untuk melakukan pemilahan sampah. Bermula dari 12 RT prioritas, ditambah 48 RT prioritas sehingga total RT prioritas kini menjadi 60 RT yang tersebar di 4 kecamatan, yaitu Bogor Timur, Bogor Tengah, Bogor Utara dan Tanah Sareal.

 

Pelatihan dan Diseminasi Informasi

Kegiatan lain Satgas untuk menjaga Ciliwung juga dilakukan melalui sarana edukasi. Sasaran utamanya adalah yang berada di dekat bantaran sungai. Salah satu lembaga pendidikan yang mendapatkan edukasi dan pendampingan adalah Pesantren Daarul Uluum. 

Saat melakukan pemetaan soal sampah di bantaran Ciliwung, diketahui bahwa sampah yang dihasilkan oleh pesantren ini cukup banyak dan biasanya berakhir di Ciliwung. Satgas kemudian memberikan pemahaman kepada pengurus pesantren mengenai masalah sampah ini. 

Pengurus pesantren menyadari soal masalah sampah ini. Akhirnya ada MoU antara Pesantren Daarul Uluum, Rekam Nusantara dan WWF. Melalui program PSC WWF, ada dukungan sarana prasarana agar pesantren Daarul Uluum bisa melakukan perubahan dalam penanganan sampah.

Dari data Yayasan Rekam Nusantara, setidaknya sebanyak 420 santri dan 50 guru serta manajemen yang bermukim dalam satu ekosistem Ciliwung ini yang terpapar informasi perihal isu sungai sampah dan plastik. Pada tahun 2024 ini ditargetkan pesantren bisa mengelola sampahnya sendiri. 

Salah satu lembaga yang juga mendapatkan edukasi dari Satgas dan Rekam Nusantara adalah YAPIS yang berada di Kelurahan Tanah Sereal. Sebanyak 72 siswa tingkat SMK mengikuti kegiatan edukasi oleh tim PSC Kota Bogor, mendekatkan isu sungai, sampah dan plastik, serta mengajak mereka untuk merefleksikan kembali bagaimana perilaku untuk hidup berkelanjutan.

Bentuk edukasi lain yang dilakukan Yayasan Rekam Nusantara adalah membuat produk komunikasi seperti film, konten digital, kampanye, kegiatan komunitas dan artikel dengan pendekatan pesan yang kreatif dan informatif. Secara garis besar, sarana edukasi terdiri dari empat macam.

Film Edukasi: Pembuatan film pendek atau dokumenter mengenai pengelolaan sampah yang menarik dan informatif. Film ini dapat menyoroti permasalahan sampah plastik, teknik daur ulang, atau kisah sukses komunitas dalam mengelola sampah

Konten Digital: Pembuatan konten digital seperti video animasi, infografis, atau kampanye media sosial yang menekankan pentingnya pengelolaan sampah dan cara-cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat.

Kampanye Kesadaran: Menggunakan kampanye kesadaran melalui poster, leaflet, dan spanduk yang menyoroti pesan-pesan penting mengenai pengelolaan sampah dan dampaknya terhadap lingkungan.

Kegiatan Komunitas: Mengadakan kegiatan komunitas seperti lokakarya, seminar, atau diskusi publik mengenai pengelolaan sampah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat.

Untuk produk komunikasi, hasilnya disebarluaskan melalui media sosial (Instagram, YouTube, Tiktok) Rekam Nusantara dan WWF-Indonesia. Hingga Desember 2023, Rekam Nusantara sudah menghasilkan 40 video, 23 konten digital instagram (November; 2023) dan 4 kegiatan edukasi di Sekolah. Di tahun 2022 saja, total konten digital sudah menjangkau setidaknya 44.045 orang.

 

Evaluasi dan Rencana Pengembangan

Ada sejumlah perubahan yang bisa dicatat setelah pembentukan KPC pada tahun 2009, yang kemudian menjadi Satgas pada tahun 2018 dan mendeklarasikan Program Plastic Smart Cities pada tahun 2022. Salah satunya adalah perubahan pola masyarakat dalam berhubungan dengan sampah.

Saat Satgas melakukan pemetaan situasi di bantaran sungai Ciliwung, setidaknya ditemukan 97 titik tumpukan atau timbulan sampah yang ukurannya 2 sampai 3 meter. Jumlah itu terus berkurang dan kini mungkin hanya ditemukan 1-2 saja setelah ada edukasi, patroli dan adanya pengangkutan sampah secara rutin oleh Dinas Lingkungan Hidup.

Pola pikir masyarakat dalam membuang sampah juga mulai berubah. Kini sudah jarang ditemui warga membuang sampah ke Ciliwung. Satgas cukup yakin praktik itu sudah berkurang sekitar 90 persen dari kondisi awal sebelum adanya Satgas dan tindakan kongkret dari pemerintah daerah.

Namun tidak menutup kemungkinan praktik buruk di masa lalu itu masih terjadi. Sebab, ada juga warga yang masih bandel dan membuang sampah di sungai. Tapi ada juga yang dilakukan oleh warga di luar bantaran sungai dan biasanya membuang sampah dari jembatan yang melintasi Ciliwung. Jumlah jembatan seperti ini cukup banyak di Kota Bogor.

Satgas juga masih melakukan patroli secara rutin sehingga bisa mendeteksi jika ada titik-titik timbunan sampah baru. Kalau ada warga di bantaran sungai yang masih bandel, akan mudah diketahui asal usulnya sehingga warganya bisa diberitahu dan diperingatkan. Soal ini bisa dideteksi dengan mudah oleh warga dengan melihat titik lokasi ditemukannya sampah.

Satgas pernah menemukan warga yang membuang sampah ke kali Ciwiwung. Satgas dengan mudah menemukan pelakunya. Meski pemiliknya sempat mengelak dia melakukannya, tapi satgas punya bukti yang sangat jelas dengan melihat lokasi sampah. Selain itu, juga melalui identifikasi sampah yang dibuang dengan kecocokan profil ekonomi rumah tangganya.

Warga juga kini lebih berhati-hati karena membuang sampah ada sanksinya yang itu diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2021. Dalam peraturan itu disebutkan soal larangan membuang sampah ke sungai. Pelaku bisa kena pidana ringan jika melakukannya. Pemerintah mulai menerapkan sanksi ini setelah sarana prasarana yang berurusan sampah sudah mulai dipenuhi.

Sebagai bagian dari pengembangan ke depan, TPS 3R Mekarwangi juga berencana memperbesar sumber asal dari bahan mentahnya. Selama ini sampah yang masuk dan diolah di TPS 3R Mekarwangi memang masih difokuskan dari sampah yang dihasilkan dan dipilah oleh RT yang menjadi prioritas program Satgas.

Kebijakan soal penerimaan sampah yang masuk dan diolah di TPS 3R Mekarwangi selama ini benar-benar melihat kemampuan mesin pengolahan yang saat ini tersedia. Dengan kapasitas yang terbatas, otomatis jumlah bahan bakunya juga menyesuaikan. Selain itu, faktor yang juga dipertimbangkan adalah daya serap pasar yang bisa menampung produk olahannya.

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya
Publikasi Lainnya