Diterbitkan pada 20 May 2024
Admin
MENABUNG DULU, BANK SAMPAH KEMUDIAN
Source: -
Bagikan

Ide awal itu terbersit secara tak sengaja pada suatu hari di awal tahun 2014. Vera Novita sedang menuju kantornya, Radio Gaya FM di Jalan Dili Raya No. 1, Bekasi Timur saat ia melewati rumah tetangganya yang sedang berduka karena kehilangan orang tuanya. Meski bekerja di sebuah perusahaan besar, tak banyak koleganya yang datang. 

Pemandangan itu mengugah kesadarannya. Apa yang terjadi jika ia, yang dari keluarga biasa, kelak berada dalam situasi serupa. Sepanjang jalan menuju kantor, Vera memikirkan peristiwa itu. Terbersit dalam pikirannya tentang apa yang bisa dilakukannya untuk lebih bermanfaat bagi orang banyak. 

Setibanya di kantor, ia mendapat tugas untuk mewawancarai seorang Budhis, AB Susanto. Ada salah satu ucapan yang menyentuh hatinya adalah saat Susanto mengatakan, “Jika hidupmu hanya bermanfaat untuk dirimu, maka kamu adalah termasuk golongan orang merugi.” 

Pulang dari kantor, ia mencari berbagai informasi tentang apa tantangan terberat dalam kehidupan ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Ia pun menemukan jawabannya: bagaimana mengatur keuangan keluarga. Terlebih kaum ibu dari golongan keluarga pra sejahtera yang pendapatannya pas-pasan sehingga menabung seperti sesuatu yang mustahil. 

Vera lantas mencari cara untuk bisa mengumpulkan para ibu rumah tangga untuk datang ke rumahnya dan bicara soal pentingnya menabung. Ternyata itu tidak mudah. Beberapa kali undangan dilayangkan, tapi tak satupun yang datang. Tahu bahwa kebutuhan mereka adalah uang, ia pun membuat undangan dengan iming-iming: mereka yang datang akan mendapatkan pinjaman Rp1.000.000. 

Cara itu terbukti jitu. Setidaknya ada 20 perempuan yang memenuhi undangannya. Janji untuk memberikan pinjaman itu memang tak terjadi karena Vera juga tak punya uang sebanyak itu. Sisi baiknya, pertemuan itu membuahkan hasil sesuai harapan. Dari pertemuan pada malam 8 Januari 2014 itu mereka sepakat untuk membuat perkumpulan dengan nama “Kelompok Bersatu Kerabat Pulo Kambing”. 

Filosofi dari pertemuan itu sederhana, yaitu bagaimana ibu-ibu yang tinggal di Kp. Pulo Kambing RT 008 RW 002 Jatinegara itu berkumpul dalam sebuah kelompok untuk meningkatkan nilai ekonomi keluarga. Pertemuan itu juga menyepakati jadwal menabung setiap hari Rabu pukul 09.00 sampai 12.00 WIB. Nilai tabungan mulai dari Rp1.000. 

Uang tabungan akan dipakai untuk mendukung permodalan usaha bagi 20 perempuan ini. 

Dalam minggu pertama, terkumpul uang tabungan senilai Rp100.000. Uang ini langsung digunakan oleh salah satu anggota kelompok untuk usaha nasi uduk. Sesuai kesepakatan, dana yang terkumpul wajib diputarkan untuk usaha anggota. Sistem pengembalian modal usaha diangsur setiap hari plus uang tabungan.

 

Embrio Bank Sampah

Setelah beberapa bulan berjalan, kegiatan ini disambut antusias para ibu di Kp. Pulo Kambing. Sudah cukup banyak juga yang menikmati modal usaha dari gerakan menabung itu. Hingga suatu hari datang seorang ibu yang ingin menabung tetapi penghasilan suaminya hanya Rp50.000/ minggu. Dengan jumlah itu, jangankan untuk menabung, untuk makan sehari-hari saja tidak cukup. 

Melihat semangat yang luar biasa dari sang ibu, Vera tiba-tiba bertanya, apakah di rumahhnya ada sampah plastik atau kardus. Sang ibu menjawab iya. Vera memintanya untuk membawa sampah. Mengapa terpikir soal sampah? Vera teringat pada sosok laki-laki tua yang rutin lewat depan rumahnya di pagi hari membawa karung besar kosong dan sore harinya sudah penuh sampah.

Pada saat itu Vera belum terpikir sampah itu akan akan menjadi apa. Usai peristiwa itu, Vera lantas mencari informasi melalui mesin pencari Google soal sampah dan menemukan sebuah berita soal bank sampah. Ia lantas mendiskusikan dan mengajak empat ibu lain untuk menjadi tim dalam kegiatan yang kelak kemudian menjadi bank sampah tersebut. 

Sebagai orang yang awam soal bank sampah, ia bertanya kepada teman SMP-nya bernama Veronica. Ia salah satu pengurus di lembaga bantuan hukum APIK. Kawan itulah yang memberi informasi tentang APK Foundation, lembaga yang saat itu konsentrasinnya soal bank sampah. Singkat cerita, Vera dan lima temannya mendapatkan pelatihan di APK Foundation, mulai dari belajar soal jenis, cara memilah hingga menjual sampah. 

Setelah memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, pada 2 Maret 2014, mereka mendeklarasikan berdirinya Bank Sampah Kerabat Pulo Kambing. Vera, sebagai inisitor dalam kegiatan ini, didapuk menjadi ketua, Yayan Ferutensi menjadi sekretaris, Partinem bendahara, Iin Parlina dan Idawati sebagai hubungan masyarakat. 

Mereka berlima kemudian menetapkan jadwal kegiatan menerima sampah setiap hari Minggu pukul 09.00 s.d 12.00 WIB. Warga yang ingin menabung sampah, yang kemudian disebut sebagai nasabah, bisa datang menabung sampah pada jadwal itu. Ketika ada salah satu nasabah yang datang di luar jam itu, ia akan diminta datang pekan berikutnya.

Menurut Vera, mereka belajar soal bank sampah ini selama lebih kurang 3 bulan. Pada awalnya, mekanisme kerja bank sampah ini cukup sederhana. Sampah yang diserahkan nasabah pada pagi hari itu akan langsung dijual kepada pengepul pada sore harinya. Begitu seterusnya. Sistem ini dipakai karena gudang yang dimiliki bank sampah pada saat itu hanya 3 meter persegi. 

Setelah mulai mahir dalam keteampilan bank sampah ini, pada Mei 2014, mereka memperbesar keanggotaan tim dengan mengajak ibu-ibu dari RW tetangga. Akhirnya bergabunglah Mutia Ratnawati dari Kp. Lio RW 003, Sri Rahayu dari Kp. Baru Klender RW 001, Farida Soleha dari Kp. Rawabadung RW 007. 

Dengan tim yang bertambah, bank sampah mulai melakukan pemetaan terhadap kemampuan anggotanya. Ada sejumlah keterampilan yang dipetakan, mulai dari kemampuan yang sifatnya hard skill seperti pemilahan sampah, membaca timbangan sampah, dan mencari lapak. Untuk yang soft skill antara lain kemampuan menulis surat, mengoperasikan Microsoft Office dan mengelola media sosial. 

Untuk memperkenalkan Bank Sampah Kerabat Pulo Kambing, mereka membuat aktivitas yang namanya “Giat Jumat Bersih”. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Jumat pukul 09.00 s.d 11.00 WIB. Targetnya adalah mendatangi 2 RT setiap hari Jumat. Pada tahun-tahun awal itu, hasil sampah yang bisa dikumpulkan bank sampah rata-rata 300 kg. per minggu. Hasil tabungan sampah itu dikonversi menjadi tabungan bagi nasabahnya. 

Kegiatan bank sampah ini awalnya mendapatkan kritik dan cemoohan dari sejumlah orang, baik yang disampaikan langsung kepada Vera dan juga anggota timnya. Vera mengatakan, Ketua RT merupakan salah satu yang mengkritik soal keberadaan bank sampah ini. Dia menilai apa yang dilakukan bank sampah ini merebut rezeki pemulung sudah ada di sana.

Kritik dan komplain juga datang dari keluarga. Vera juga mendapatkan pandangan miring dari keluarganya sendiri. Mencari rezeki dari sampah dianggap membuat malu keluarga, Seolah-olah tak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan. Vera dan pengurus bank sampah mendengarkan semua kritik itu namun tak berusaha mendebatnya. Mereka berharap nanti waktu yang akan menjawabnya. 

Salah satu anggota tim yang tak mendapat dukungan keluarga pada awalnya adalah Mira. Perempuan ini sudah berkeluarga selama 4 tahun tetapi tak kunjung dikarunia anak. Saat dia menyampaikan keinginannya untuk bergabung dalam kegiatan bank sampah, sang ibu langsung berkata, “Dulu kamu di rumah bersih saja ngga hamil-hamil. Apalagi kalau gabung di bank sampah. Udahlah kotor, jorok. Makin susah nanti punya anak!”. 

Pandangan miring orang tuanya itu tak menggoyahkan semangat Mira untuk aktif di bank sampah. Setelah satu tahun bergabung dengan bank sampah, apa yang dikhawatirkan keluarganya tidak terbukti. Meski bergelut dengan sampah di tiap pekan, setahun kemudian toh terbukti ia mulai hamil. 

Sikap keluarga Vera, yang awalnya kurang mendukung, akhirnya berubah pikiran setahun kemudian setelah aktivitasnya di bank sampah memberi manfaat dan mendapat pengakuan. Titik baliknya itu terjadi tahun 2015 saat Hayono Suyono, mantan Menteri BKKBN pada Era Orde Baru datang ke bank sampah di Pulo Kambing itu. 

Pada saat itu Hayono Suyono, yang juga pengurus Pramuka, mengajak sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dari berbagai daerah untuk melihat gerakan bank sampah di Pulo Kambing itu. Kepada tamu yang diajaknya Suyono mengatakan bahwa lahan terbatas tak menghalangi adanya bank sampah dan memberi manfaat kepada masyarakat sekitar. 

Dalam dua tahun, orang yang terlibat dalam Bank Sampah Pulo Kambing mencapai 20 orang. Selain menjalankan koperasi simpan pinjam dan bank sampah, ada kegiatan lain juga seperti belajar public speaking, Bahasa Inggris, dan Tahsin. Beberapa tahun kemudian variasi kegiatannya bertambah dengan kegiatan hidroponik, membuat karya ulang dari sampah hingga wisata edukasi.

Kegiatan hidroponik muncul karena permasalahan di Kampung Pulo Kambing yang minim pohon. Tingkat polusi di daerah ini juga tinggi karena banyaknya usaha furnitur. Bertanam dengan media botol bekas pun mulai dilakukan. Banyak keluarga yang mengikuti kegiatan ini. Walau hasil panen tidak optimal, minimal setiap rumah ada pohon hijau yang bisa menyumbang oksigen bagi anggota keluarga. 

Sejumlah inovasi lain juga dilakukan untuk meningkatkan daya tarik orang untuk menabung sampah. Salah satunya adalah melalui kerjasama dengan perusahaan negara atau swasta. Kerjasama itu datang setelah usaha sejak awal yang dilakukan pengurus untuk mendapatkan perhatian (juga dukungan) dari sejumlah lembaga pemerintah dan swasta terhadap gerakan ini.

Vera masih mengingat bagaimana saat itu dia mengirimkan surat pemberitahuan kepada sejumlah perusahaan dan lembaga pemerintah soal adanya bank sampah ini. Salah satu yang menjawab email itu adalah PT Aneka Tambang Logam Mulia. Hubungan dengan perusahaan pelat merah ini yang kemudian melahirkan kegiatan menabung sampah dengan hasil emas. 

Dalam program yang diberi nama NyiMas ini, warga yang menabung sampah secara rutin selama kurun waktu enam bulan akan mendapatkan hasil tabungannya itu berupa emas. Ternyata peminat program ini cukup banyak. Dalam kerjasama pada tahun 2017 itu, setidaknya ada 1.800 gram yang didapat nasabah dalam kurun waktu 2 tahun. Program ini berakhir tahun 2018.

Saat pendirian pada tahun 2014, bank sampah memanfaatkan lahan kecil untuk bekerja. Ini pula yang membuat mekanisme kerja bank sampah sangat sederhana. Nasabah diminta mengumpulkan sampah hari minggu pagi, sore harinya sudah harus dijual. Salah satu alasannya karena gudang penyimpanan yang terbatas. Mereka ingin punya gudang lebih besar tapi apa daya kas hanya tersedia Rp2.000.000. 

Keberuntungan datang saat seorang warga pemilik rumah memberikan hak guna pakai kepada bank sampah dan koperasi di lahan seluas 575 m². Dengan kantor dan gudang yang lebih besar, pengurus kemudian memikirkan perlunya badan untuk menaungi operasional dari kegiatan ini. Pada saat itu anggota koperasi dan bank sampah sudah 800-an. 

Rencana itu terwujud tahun 2018 dengan berdirinya Yayasan Pulo Kambing. Yayasan ini yang kemudian menjadi payung hukum dari kegiatan bank sampah. Namanya tetap Bank Sampah Pulo Kambing sampai kemudian berubah menjadi Bank Sampah Gunung Emas pada tahun 2022. 

Kerjasama bank sampah dengan PT Antam tidak hanya dalam implementasi program NyiMas. Untuk program ini, harus ada modal awal sekitar Rp20.000.000 yang tersedia. Pengurus bank sampah juga mendapatkan pelatihan digital marketing. Selain dengan PT Antam, bank sampah juga mendapat dukungan dari PT Kalbe Farma berupa dua alat untuk membuat Lubang Resapan Biopori.

 

Tantangan dan Peluang di Masa Covid-19

Setelah beraktivitas selama kurang lebih enam tahun, masalah datang di tahun 2019. Wabah Covid-19 yang menghantam dunia itu mendorong warga mengurangi aktivitas di luar secara drastis. Kegiatan bank sampah dan juga koperasi simpan pinjam juga terkena dampaknya Jumlah tim yang semula 20 berkurang menjadi 5 orang saja. 

Nasib baik datang dari tawaran dari Sandiaga Uno yang memiliki Lembaga Rumah Siap Kerja yang pada saat itu fokus menyediakan pelatihan kelas online. Hidroponik menjadi kegiatan yang menarik buat Rumah Siap Kerja. Direktur Rumah Siap Kerja menawarkan kerja sama dengan yayasan Pulo Kambing untuk mengisi kelas Hidroponik. 

Rumah Siap Kerja yang merupakan salah satu mitra pemerintah dari program Kartu Pra Kerja. Melalui kelas pelatihan hidroponik itu, yayasan mendapatkan bayaran Rp10.000 per video yang dibeli oleh peserta Pra Kerja. Ternyata kelas pelatihan hidroponik ini diminati banyak orang. Ada 60.000 orang yang membeli kelas tersebut. Dalam kurun waktu 2019-2020 mereka mendapatkan pemasukan sebesar Rp600.000.000. 

Kelas pelatihan hidroponik ini hasil kerjasama Yayasan Pulo Kambing dengan pihak yang ahli dalam hidroponik. Pendapatan yang didapatkan dari kelas ini langsung dibagi. Pemasukan ini sangat membantu ekonomi anggota tim. Sebagian dari hasil itu dipakai untuk liburan ke Bali. Setelah Covid mereda, kegiatan bank sampah berangsur pulih. 

Sejak awal pendirian, tim bank sampah cukup aktif mensosialisasikan kegiatannya sehingga mendapatkan sejumlah dukungan. Selain dari PT Antam Logam Mulia, dukungan juga datang dari sejumlah perusahaan swasta. Ada yang berupa alat pendukung seperti kendaraan, ada juga yang memberikan sponsorship saat mengadakan kegiatan. 

Dukungan juga datang dari lembaga konservasi lingkungan internasional di Indonesia, WWF, pada 2022. Bentuk dukungannya ada sifatnya manajerial soal bank sampah. Keterampilan dengan diberikan melalui pelatihan ini memuat banyak materi, mulai dari menetukan target kerja hingga menyusun laporan kegiatan secara jelas dan detail. 

Selain mendapatkan pelatihan yang itu meningkatkan keterampilan pengurus bank sampah, manfaat penting lainnya yang didapatkan melalui kerjasama dengan WWF adalah adanya jaringan yang lebih luas. 

Dari WWF, Bank Sampah juga mendapatkan sejumlah peralatan yang mendukung operasional bank sampah. Peralatannya meliputi mesin cacah, mesin hot press dan mesin cold press. Ada juga bantuan mobil operasional untuk pengangkutan sampah. Kendaraan sejenis juga pernah didapatkan dari Bank BNI dan Kementerian Perdagangan.

 

Inovasi dan Memperbanyak Nasabah

Setelah kini berusia lebih kurang tujuh tahun, Yayasan Pulo Kambing kini banyak berfokus pada bank sampah dengan memperbanyak nasabah. Selain tentu saja meningkatkan kemampuan teknis para pengelolanya dan mengembangkan lahan baru yang sebelumnya tak tergarap seperti sampah plastik multilayer. 

Usaha pengumpulan sampah multilayer ini merupakan hasil kerjasama dengan salah satu ketua RT di Kelurahan Jati. Dalam dua minggu saja sampah jenis ini yang berhasil dikumpulkan bisa sampai 300 kg. Bank Sampah menjual sampah ini ke PT Trilion Multiplastindo yang selama ini memang mengolah sampah jenis ini. 

Bank Sampah Gunung Emas memiliki nasabah 557 orang, 6 perusahaan dan 6 sekolah yang berdomisili di kecamatan Cakung, Pulo Gadung, Matraman dan Duren Sawit. Sejak berdiri pada 2014 hingga 2023, bank sampah ini setidaknya sudah berhasil mereduksi sampah agar tidak terbuang ke TPA Bantar Gebang sebanyak 141.441 ton. 

Dengan organisasi yang kini lebih besar dari saat awal didirikan, cara kerja bank sampah juga tak sama seperti dulu. Jika di awal-awal penjemputan sampah hanya seminggu sekali, kini sudah seminggu menjadi dua kali. Jadwal rutinnya adalah Senin, Rabu dan Jumat. Sedangkan pemilihan dan penjualan dilakukan pada Selasa dan Kamis. Sedangkan hari libur digunakan hanya untuk sosialisasi.

Saat ini tim intinya, yang digaji penuh oleh bank sampah, sebanyak lima orang. Satu sebagai cadangan. Pengambilan sampah di titik poin juga ditentukan minimal 300 kg. Jika tersedia dalam jumlah itu, ia akan mengabari pengurus untuk dijemput. Jumlah di bawah itu masih bisa diambil jika berada di satu jalur dengan rute pengangkutan. Rata-rata sampah yang bisa diambil dan dijual saat ini sekitar 6-7 ton per bulan. 

Kegiatan lain dari bank sampah yang sudah dilakukan sejak awal adalah membuat karya guna ulang dari sampah hingga wisata edukasi. Karya guna dihasilkan dari sampah plastik multilayer yang sebelumnya tidak laku dijual. Produk pertama yang dibuat adalah tas dan bungkus kopi. 

Pembuatan produk olahan sampah ini diharapkan bisa menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat. Namun upaya ini kurang membuahkan hasil. Produk yang dihasilkan kurang diminati masyarakat karena produk kurang dan harga lebih mahal dibandingkan dengan produk dari Cina yang tersedia. Namun karya guna ini tetap dipertahankan.

Kegiatan lain yang juga terus berkembang adalah wisata edukasi kepada masyarakat tentang sampah. Ini merupakan efek samping dari aktifnya media sosial bank sampah sehingga membuat orang tertarik untuk datang. Sampai tahun 2023, sekitar 1.500 orang yang sudah datang berkunjung dan belajar tentang bank sampah. 

Sudah cukup banyak penghargaan yang diberikan kepada Bank Sampah Gunung Emas. Pada tahun 2023 ini antara lain mendapat penghargaan Bank Sampah Terbaik Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Bank Sampah Terbaik Nasional. Penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu didapatkan dari karena program NyiMas tahun 2017. 

Bank Sampah Pulo Kambing melanjutkan program NyiMas ini, bekerjasama dengan PT Pegadaian. Beda dengan sebelumnya, kali ini nasabah tak akan mendapatkan emas fisik tapi berupa tabungan emas di PT Pegadaian. Saat ini programnya sedang dimatangkan. Dan sejak 2023 Bank Sampah Gunung Emas pindah ke kantor baru di Jalan Kamboja III No. 9A Jakarta.

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya
Publikasi Lainnya