Hari masih pagi, sekitar pukul 09.00, Kamis (5/6/2025). Puluhan murid kelas I, II, dan III, berkumpul di salah satu ruang kelas di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Mulia, Jakarta. Hari itu, Truk Panda atau Panda Mobile, mobil edukasi dari WWF-Indonesia mengunjungi sekolah tersebut.
Panda mobile adalah salah satu program WWF-Indonesia untuk mengedukasi siswa SD dan SMP soal konservasi alam dan lingkungan, serta menyebarkan pesan konservasi kepada masyarakat luas melalui kegiatan edukatif yang interaktif dan menyenangkan.
Kehadiran Panda Mobil merupakan bagian dari program Plastic Smart Cities merupakan inisiatif WWF yang mendukung agenda bebas plastik di alam.
Sebelum mereka melakukan aktivitas seperti menonton video edukasi di truck panda mobile dan bermain games, di halaman Masjid Akbar Kemayoran yang satu lokasi dengan sekolah, anak-anak mendengarkan dongeng dari Paman Gery (Gery Saleh).
Pagi itu, Paman Gery mengajak anak-anak berdongeng dengan judul cerita “Teman Baru”. Paman Gery mengawali cerita dengan seekor ikan yang merasa sebagai ikan yang paling keren yang tinggal di dasar laut. Ia tidak mau berteman dengan ikan-ikan lain, terutama kepiting.
Sang ikan tersebut lalu dia berenang ke permukaan mencari teman baru. Di permukaan dia bertemu sosok teman baru yang belum pernah ditemuinya di laut. Bentuknya berbeda, yakni kantong platik dan botol plastik air mineral.
Teman baru tersebut diajak masuk ke dasar laut, dan dengan bangganya memperkenalkan pada teman-temannya. Namun, saat dia bermain dengan teman barunya, sang ikan tersebut malah terjebak ke dalam kantong plastik dan hampir mati kehabisan napas.
Ikan-ikan yang lain tidak bisa menolong sang ikan tersebut. Beruntung muncul kepiting, yang dengan kedua capitnya menolong sang ikan yang terjebak dalam kantong plastik.
Di ujung dongeng tersebut, Paman Gery bertanya apa anak-anak teman baru itu apa. Lalu dijawab anak-anak bahwa itu adalah sampah plastik. “Siapa yang taruh di laut?’ dan dijawab anak-anak yang menaruhnya adalah manusia.
Hari itu, Paman Gery dengan gaya kocak, selama berdongeng melibatkan anak-anak ikut berinteraksi, sehingga anak-anak pun gembira dan menikmati dongeng tersebut. Paman Gery pun menyelipkan sejumlah pesan bahwa sampah bukanlah teman, melainkan ancaman.
Menghancurkan kehidupan
“Nah, anak-anak. Itulah cinta papa Gery. Teman baru ini ternyata bukan teman. Ini sampah plastik, yang makin lama makin banyak ada di mana-mana. Di laut dan di permukaan. Sampah plastik akan bisa menghancurkan kehidupan kita,” ujar Paman Gery.
Paman Gery kemudian bertanya lagi pada anak-anak, siapa yang membuang sampah sembarang? Anak-anak pun terdiam. Lalu Paman Gery pun melanjutkan nasihatnya agar anak-anak tidak membuang plastik sembarangan, mengurangi sampah plastik, dan menjaga lingkungan yang bersih.
Teman baru ini ternyata bukan teman. Ini sampah plastik, yang makin lama makin banyak ada di mana-mana. Di laut dan di permukaan. Sampah plastik akan bisa menghancurkan kehidupan kita.
Anak-anak mengaku sangat menyukai dongeng tersebut. Ketika ditanya dongeng tersebut tentang apa, mereka pun menjawab soal sampah plastik.
Edukasi menjaga lingkungan, terutama soal bahaya sampah plastik yang dikemas melalui dongeng merupakan bagian dari kegiatan kunjungan Panda Mobile. Usai mendengar dongeng, anak-anak pun mendatangi Truk Panda menonton film anak-anak.
Film tersebut bercerita seputar isu lingkungan, bagaimana cara mengelola sampah, pengenalan satwa yang dilindungi, hemat energi, berbagai persoalan lingkungan lainnya.
Film sampah, bagaimana mengurangi sampah plastik dengan membawa tempat makan dan minum ke sekolah atau saat bepergian. Selain itu, bagaimana mengunakan kembali dan mendaur ulang, sampah plastik dengan konsep 3 R (Reduce, Reuse, Recycle).
Selain menonton film anak-anak juga diajak relawan WWF-Indonesia dalam permainan Plastic Ranger dan Engklek. Untuk permainan plastic ranger, dikemas dalam bentuk permainan ular tangga dengan papan permainan jumbo.
Di ular tangga tersebut, tertera edukasi soal sampah. Misalnya, tangganya akan kena ular dan jatuh kalau langkahnya pas di membuah sampah di sungai, membakar sampah, tidak memilah sampah, atau menggunakan plastik pakai. Sebaliknya, akan naik tangga kalau memilah sampah atau membawa botol minuman dari rumah.
Usai acara tersebut, beberapa murid SDIT Insan Mulia mengaku sangat senang karena mendengarkan dongeng dan ikut permainan Plastic Ranger dan Engklek. “Aku nonton film, sampah berserahkan. Trus ada tentang sampah, juga jangan pakai yang sekali pakai,” ujar Halim, murid Kelas III SD tersebut.
Kepala SDIT Insan Mulia, Santi L Oktadriani, kunjungan Panda Mobile ke sekolah itu amat menarik untuk anak-anak karena membawa pesan-pesan edukasi. Dengan mendongeng dan menonton film tentang sampah, anak-anak makin tahu tentang sampah dan dampak pada lingkungan.
“Anak-anak sifatnya lebih suka visual dan melihat, dan anak-anak jadi tahu oh ternyata sampah begini, mungkin anak-anak enggak tahu sampah itu merugikan atau tidak,” ujarnya.
Menurut Santi, terkait upaya pengurangan sampah, SDIT Insan Mulia, sejak beberapa tahun terakhir mewajibkan murid membawa tempat minum dari rumah, serta membawa bekal makanan atau katering makanan di sekolah.
Menurut Diah Sulistiowati, Communication & Outreach Manager, WWF-Indonesia, Panda Mobile WWF-Indonesia dimulai sejak tahun 2000 an untuk edukasi pendidikan lingkungan dan konservasi alam. Saat ini program Panda Mobile berkembang ke lapangan melalui program Education for Sustainable Development WWF-Indonesia.
Truk Panda dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti perpustakaan mini yang berisi buku tentang konservasi lingkungan, permainan edukatif untuk anak-anak serta memiliki aktivitas seperti pemutaran film konservasi, mendongeng dan permainan edukasi lainnya.
“Mendongeng menjadi salah satu aktivitas utama yang kami lakukan di Panda Mobile. Mengapa kami mengajak pendongeng? Karena mendongeng salah satu tool yang efektif untuk menyebarkan pesan,” kata Diah.
Secara kognitif, mendengar dongeng akan menstimulasi imajinasi anak-anak, dan ceritanya akan tersimpan dalam memori mereka. Jadi dari kecil anak-anak ditanamkan cinta lingkungan dan berharap ketika dewasa, mereka akan menanamkan nilai-nilai itu untuk menjaga lingkungan.
Sejak tahun 2024, Panda Mobile dan mendongeng bersama Paman Gery menjadi sarana yang efektif untuk edukasi soal sampah plastik dalam program Plastic Smart Cities.
“Kami sudah mengunjungi lebih dari 300 sekolah di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), terutama yang berada di sekitar Sungai Ciliwung,” tambah Diah.
Harapannya melalui permainan yang interaktif dan menyenangkan, bisa mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Artikel original dapat dilihat di https://www.kompas.id/artikel/dongeng-dan-panda-mobile-wwf-indonesia-edukasi-pengelolaan-sampah-bagi-anak-anak-sekolah
Download Aplikasi AKSI dan Ambil Peranmu untuk Kurangi Sampah Plastik
Gabung sebagai nasabah Plastic Smart Cities sekarang dan dapatkan berbagai keuntungan dari menjaga lingkungan.
Scan disini
Atau dapatkan di
Panduan Aplikasi AKSI
WWF Indonesia
- Website: https://wwf.id/
- Yotube: @WWFIndonesia
- X: @WWF_ID
- Instagram: @wwf_id
- Tiktok: @wwf_id
Tidak terdapat daftar isi.
Tidak terdapat daftar isi.