EXISTENSIL – Dinar (40) tengah duduk di ruang tamu rumahnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan saat ditemui Redaksi Existensil.com, mengelus perut yang kian membesar. Ini adalah kehamilan keduanya, dan entah mengapa ia merasakan lebih banyak kekhawatiran dibandingkan saat hamil anak pertama 10 tahun lalu. Bukan sekadar soal usia yang kini sudah kepala empat, tapi juga pengetahuan baru yang ia peroleh tentang bahaya mikroplastik dan BPA terhadap janin.
Beberapa minggu lalu, Dinar membaca sebuah artikel ilmiah yang membahas bagaimana partikel plastik berukuran kecil bisa menembus plasenta. Ia tak habis pikir, benda yang selama ini begitu dekat dengan kehidupannya botol minum plastik, wadah makanan, bahkan kantong belanja ternyata bisa menjadi ancaman bagi calon buah hatinya. “Artikel itu menyebutkan, mikroplastik bisa memicu stres oksidatif pada plasenta, menyebabkan peradangan, dan mengganggu fungsi hormon. Dampaknya, pertumbuhan janin terhambat, risiko keguguran meningkat, bahkan kemungkinan gangguan pada otak janin,” bebernya, Selasa (1/7/2025).
Sejak saat itu, Dinar berubah. Ia menolak menggunakan botol plastik sekali pakai. Semua makanan ia simpan dalam wadah kaca atau keramik. Suaminya sempat mengeluh karena repot, tapi Dinar kukuh. “Kalau saya lengah, dia yang menanggung akibatnya,” ujarnya.
Dinar tahu sebagian orang mungkin menganggapnya berlebihan, namun bagi Dinar, lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal.” Dulu anak pertama belum paham bahaya mikroplastik, sekarang lebih paham,” akunya.
Sementara itu, Larsi (47) seorang ibu tunggal yang ditemui Redaksi Existensil.com di kantornya di bilangan Blok M, Jakarta Selatan, menjalani hari-hari bersama putranya yang berusia 15 tahun. Anak itu didiagnosis didiagnosis AuDHD, yaitu kondisi ketika seorang individu memiliki kedua diagnosis Autisme Spektrum (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) secara bersamaan sejak usia dini.
Meski Larsi menerima kenyataan itu dengan penuh cinta, sesekali rasa bersalah menyergap. “Apakah ini ada hubungannya dengan kehamilan saya dulu? Apakah saya kurang hati-hati?” cetusnya, Senin (15/9/2025)
Larsi ingat betul kebiasaan lamanya. Ia sering minum air dari botol plastik yang disimpan berhari-hari di mobil, kadang terpapar panas matahari. Ia juga terbiasa membeli makanan siap saji dalam kemasan plastik. Waktu itu, ia sama sekali tidak tahu soal BPA, senyawa kimia dalam plastik yang bisa mengacaukan sistem hormonal tubuh. Bertahun-tahun kemudian, saat ia membaca penelitian tentang kaitan paparan BPA dan risiko gangguan perkembangan saraf, hatinya hancur.
Tentu saja, belum ada bukti pasti yang menyatakan hubungan langsung antara mikroplastik dan autisme. Para ilmuwan pun masih berdebat. Namun, bagi seorang ibu, rasa bersalah kerap tumbuh dari ruang abu-abu. “Kalau saja dulu saya lebih berhati-hati,” ucap Larsi.
Kini, Larsi menjelma menjadi sosok yang sangat ketat soal plastik di rumah. Anak-anaknya dilarang minum dari botol plastik sekali pakai. Ia mengganti semua wadah dengan kaca atau stainless steel. Bahkan untuk mencuci pakaian sintetis, ia menggunakan kantong khusus agar serat mikroplastik tidak terlepas ke lingkungan. “Saya tidak mau kesalahan terulang. Setidaknya aku bisa melindungi mereka sekarang,” katanya dengan suara bergetar.
Kisah Dinar dan Larsi hanyalah dua potret kecil dari kecemasan banyak ibu di era modern. Mikroplastik kini ditemukan di hampir semua aspek kehidupan: udara yang kita hirup, makanan laut yang kita konsumsi, bahkan garam dapur yang kita taburkan di meja makan. Yang lebih mencengangkan, para peneliti telah mendeteksi partikel plastik di plasenta manusia, cairan ketuban, hingga darah tali pusat. Dengan kata lain, janin yang belum lahir pun bisa terpapar.
JEJAK TOKSISITAS PEMICU AUTISME
Polusi plastik yang kian meluas bukan lagi sekadar masalah lingkungan, melainkan juga menjadi perhatian serius di bidang medis. Kelompok paling rentan adalah ibu hamil dan janin yang sedang berkembang. Partikel plastik berukuran mikro, bahkan nano, kini terbukti mampu melintasi sawar biologis paling penting: plasenta.
Hal ini diungkap dr. Sefty Mariany Samosir, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, keberadaan mikroplastik di tubuh ibu hamil adalah ancaman nyata yang patut diwaspadai. “Rahim yang seharusnya menjadi ruang aman bagi janin, kini tidak lagi sepenuhnya terlindungi. Mikroplastik telah ditemukan di plasenta, cairan ketuban, bahkan darah tali pusat, membuktikan janin dapat langsung terpapar sejak dalam kandungan,” ujarnya kepada Existensil.com, Jumat (26/9/2025)
Mikroplastik adalah partikel polimer sintetis berukuran kurang dari 5 mm, yang kini ditemukan hampir di semua lingkungan: laut dalam, udara, hingga tubuh manusia. Salah satu senyawa yang sering menjadi sorotan adalah Bisphenol A (BPA), bahan utama plastik polikarbonat (botol minum, wadah makanan) dan resin epoksi (lapisan kaleng). BPA dapat larut ke makanan atau minuman, terutama bila plastik dipanaskan atau tergores.
“Struktur kimia BPA mirip dengan hormon estrogen. Itu membuatnya dapat menempel pada reseptor estrogen dan mengganggu keseimbangan hormonal ibu hamil,” jelas dr. Sefty. Gangguan hormon ini bisa memengaruhi plasenta, sistem reproduksi janin, hingga otak janin yang sedang berkembang.
Kemajuan teknologi deteksi telah menemukan mikroplastik dalam serum ibu, plasenta, cairan ketuban, dan darah tali pusat. Penelitian Ragusa dkk. bahkan mendeteksi partikel polyethylene, polypropylene, dan PET di semua bagian plasenta, termasuk sisi yang berhubungan langsung dengan janin.
Pada studi hewan, mikroplastik yang diberikan melalui mulut ditemukan menumpuk di hati, ginjal, dan plasenta induk, serta mencapai hati dan otak janin hanya dalam 20 hari kehamilan. Partikel berukuran kecil (<1 µm) lebih mudah menembus plasenta dan masuk ke sirkulasi janin.
“Fakta ini memperkuat bukti bahwa paparan mikroplastik adalah ancaman transgenerasional, dimulai sejak janin masih dalam rahim,” kata dr. Sefty.
Setelah memasuki plasenta, kata Sefty, mikroplastik memicu serangkaian reaksi berbahaya. Mikroplastik menyebabkan stres oksidatif yang mengganggu fungsi mitokondria dan meningkatkan produksi radikal bebas. Selain itu, terjadi inflamasi melalui aktivasi jalur NF-κB yang meningkatkan kadar sitokin IL-6 dan TNF-α. Mikroplastik juga mengganggu keseimbangan hormonal dengan bertindak sebagai endocrine disruptor, sehingga sinyal plasenta menjadi kacau.
“Secara struktural, kerusakan terjadi pada tight junctions seperti ZO-1 dan claudin, yang melemahkan barier plasenta. Akibatnya, sel-sel plasenta mengalami kematian melalui mekanisme apoptosis dan ferroptosis, memperburuk kerusakan lapisan plasenta,” paparnya.
Akibatnya, lanjut Sefty, plasenta kehilangan fungsi protektif, nutrisi dan oksigen tidak tersalurkan optimal, serta kebocoran meningkat. Risiko yang muncul bagi janin meliputi hambatan pertumbuhan, kelahiran prematur, hingga cacat organ.
Bukti dari penelitian pada hewan secara konsisten menunjukkan bahwa paparan mikroplastik menyebabkan pertumbuhan yang terhambat, ditandai dengan berat lahir rendah, panjang tubuh yang berkurang, dan kelainan skeletal. Selain itu, terjadi gangguan pada organ, termasuk kerusakan hati, maturasi paru yang terlambat, dan neuroinflamasi pada otak. “Paparan ini juga berdampak pada fungsi neurokognitif, dengan perubahan neurotransmiter, gangguan perilaku, serta peningkatan risiko jangka panjang terhadap fungsi memori,” ungkap Sefty.
Pada manusia, data awal menunjukkan deteksi mikroplastik di plasenta berhubungan dengan hipertensi kehamilan, berat lahir rendah, dan perubahan histologi plasenta. Namun, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk menguatkan hubungan kausal.
Infografis periode kehamilan dan ancaman mikroplastik (Existensil/data: dr.Sefty)
Soal mikroplastik atau BPA berkaitan dengan autisme dan ADHD, Sefty mengungkap meski belum ada bukti tapi kemungkinan sangat besar karena sudah diuji melalui hewan. “Saat ini belum ada bukti epidemiologis yang cukup kuat pada manusia. Namun, studi hewan menunjukkan adanya dampak pada regulasi otak dan jalur protein penting seperti BDNF, yang memengaruhi memori dan fungsi kognitif,” terang dr. Sefty.
Artinya, meski hubungan langsung pada manusia masih diperdebatkan, indikasi risiko sudah cukup menjadi alarm kewaspadaan.
Hingga kini, belum ada tes rutin klinis untuk mendeteksi BPA pada ibu hamil. Pemeriksaan biasanya hanya dilakukan dalam penelitian, menggunakan sampel urin, darah, cairan ketuban, atau plasenta dengan metode kromatografi dan spektroskopi.
Karena sulit dideteksi, prinsip pencegahan menjadi yang utama.
REKOMENDASI UNTUK IBU HAMIL
Menurut dr. Sefty, ada langkah praktis untuk meminimalisir paparan mikroplastik dan BPA:
Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik. Gunakan kaca, stainless steel, atau keramik. Kurangi konsumsi makanan kaleng. Banyak lapisan kaleng mengandung BPA. Gunakan botol minum non-plastik. Hindari plastik sekali pakai, terutama yang terpapar panas. Cuci buah dan sayuran dengan baik. Kurangi konsumsi seafood berisiko tinggi mengandung mikroplastik. Minimalkan plastik di rumah. Gunakan tas kain, bersihkan debu, pasang filter untuk mesin cuci. Pilih produk pribadi tanpa microbeads. Beralih ke bahan alami bila memungkinkan.
Plastik yang kita buang hari ini bisa berakhir di tubuh janin yang belum lahir. Fakta bahwa mikroplastik ditemukan di plasenta dan cairan ketuban adalah tanda bahwa rahim kini tak lagi steril dari ancaman dunia luar.
“Ibu hamil dan janin sangat sensitif terhadap zat kimia yang menyerupai hormon. Paparan sekecil apa pun bisa berdampak besar pada perkembangan organ, saraf, dan sistem kekebalan anak. Prinsip terbaik adalah menghindari paparan sebanyak mungkin,” pesan dr. Sefty.
AMBISI NEGARA BERKUTAT PADA WACANA
Dalam paparannya, aktivis lingkungan sekaligus pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menekankan bahwa perjanjian plastik global tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Ia menegaskan, dunia harus berfokus pada pengurangan produksi plastik sekali pakai sejak dari sumbernya. “Perjanjian ini harus menekan produksi plastik global, melarang perdagangan sampah plastik lintas negara, dan melindungi masyarakat yang paling rentan terhadap pencemaran plastik, termasuk perempuan, anak-anak, serta komunitas nelayan di pesisir,” ujarnya Kamis (31/7/2025)
Indonesia disebut masih menjadi sasaran ekspor sampah plastik dari negara maju. Kondisi ini menimbulkan beban ganda, karena selain harus mengelola timbulan sampah domestik yang mencapai hampir 70 juta ton per tahun, Indonesia juga dihadapkan pada ancaman pencemaran dari limbah impor. Praktik ini, menurut Prigi, bertentangan dengan prinsip keadilan lingkungan. “Negara maju tidak boleh menjadikan Indonesia sebagai tempat pembuangan akhir. Ini adalah bentuk ketidakadilan ekologis yang memperburuk pencemaran plastik dan membahayakan kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Krisis plastik, kataPrigi, bukan hanya tentang sampah yang mencemari laut atau menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lebih dari itu, penelitian terbaru telah menemukan mikroplastik dalam darah, plasenta ibu hamil, hingga air susu ibu (ASI). Fakta ini menunjukkan bahwa paparan plastik sudah terjadi sejak janin masih dalam kandungan, sebuah kondisi yang menandakan krisis kesehatan masyarakat.
Para aktivis menekankan agar Indonesia berani mengambil posisi kuat dalam perundingan Intergovernmental Negotiating Committee (INC) yang tengah berlangsung di Jenewa, Swiss. Mereka berharap pemerintah mendorong adanya target global yang tegas dalam pengurangan produksi plastik, menghentikan praktik ekspor-impor sampah plastik, serta memperjuangkan mekanisme pembiayaan internasional yang mendukung negara berkembang melakukan transisi menuju sistem bebas plastik sekali pakai.
Di tengah momentum menuju Indonesia Emas 2045, masyarakat sipil menilai kepemimpinan Indonesia dalam mendorong perjanjian plastik global akan menjadi langkah strategis. Dengan populasi besar dan timbulan sampah yang masif, Indonesia memiliki peran penting untuk mendorong transformasi menuju ekonomi sirkular yang adil dan berkelanjutan. “Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka kita harus mulai dengan melindungi lingkungan dan kesehatan rakyat dari bahaya plastik hari ini,” tutup Prigi.
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, mengaku Indonesia tak akan tinggal diam. “Dengan atau tanpa perjanjian, Indonesia tetap ambil langkah konkret untuk menghentikan polusi plastik,” ujarnya di forum INC-5.2, Jenewa, Rabu (13/7/2025)
Indonesia menargetkan 100% sampah terkelola pada 2029 sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2025. Strateginya mencakup penghapusan plastik bermasalah, pencegahan kebocoran plastik ke lingkungan, serta penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) agar produsen ikut bertanggung jawab atas siklus hidup produk mereka.
Selain itu, kerja sama bilateral dengan Inggris dan Belanda memperkuat agenda nasional: mulai dari pencegahan banjir di Sungai Ciliwung, pengelolaan sampah jadi energi, hingga riset plastik ramah lingkungan.
Polusi plastik kini tak lagi sekadar masalah lingkungan. Ia merembes masuk ke tubuh ibu, mengendap di plasenta, dan menodai ruang tumbuh janin. Ancaman ini nyata, dari sungai yang tersumbat sampah hingga bayi yang lahir membawa partikel plastik di tubuhnya.
Langkah pemerintah memang penting, tetapi keberhasilan strategi ini bergantung pada kolaborasi semua pihak. Dunia usaha wajib bertanggung jawab, sementara masyarakat bisa mengambil peran sederhana: mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, membawa wadah sendiri, dan mendukung ekonomi sirkular.
Masa depan generasi Indonesia sedang dipertaruhkan. Jika plastik terus meracuni rahim dan mengusik kehidupan sejak trimester pertama, maka target Indonesia Emas 2045 bisa berubah jadi ilusi. Pertanyaannya: apakah kita akan membiarkan generasi lahir dalam bayang plastik, atau bersama bergerak untuk memutus siklus racun ini?
Direktur Pemulihan Lahan Terkontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah B3 dan Non-B3 KLHK, Vinda Damayanti Ansjar, menegaskan bahwa pengelolaan sampah kini menjadi salah satu program prioritas pemerintah. “Hal ini tak lepas dari ancaman triple planetary crisis yang tengah dihadapi dunia: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi. Menurutnya, pengelolaan sampah juga merupakan bagian penting dari target Sustainable Development Goals (SDGs) dan menjadi strategi utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” ungkap dia dikutip dari Antara.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, timbulan sampah di Indonesia pada 2023 mencapai 69,9 juta ton. Dari jumlah tersebut, 41,60% berupa sisa makanan dan 18,71% plastik. Sumber utama sampah berasal dari rumah tangga, dengan kontribusi sebesar 44,37%. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Dari total 56,63 juta ton sampah yang terhimpun, hanya 39,01% (22,09 juta ton) yang berhasil dikelola dengan layak. Sisanya masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) terbuka praktik lama yang mencemari udara, tanah, dan air, serta memicu darurat persampahan di berbagai daerah.
Plastik yang menumpuk di lingkungan lambat laun terurai menjadi mikroplastik. Partikel mikroskopis ini kemudian masuk ke rantai makanan dan akhirnya ke tubuh manusia melalui air minum, hasil laut, hingga udara yang terhirup. Bagi ibu hamil, risiko ini lebih berbahaya, sebab mikroplastik mampu menembus plasenta—benteng terakhir yang melindungi janin.
Riset terkini mengungkap mekanisme bagaimana mikroplastik mengganggu kesehatan janin. Setelah memasuki plasenta, partikel mikroplastik menimbulkan stres oksidatif, merusak fungsi mitokondria, dan meningkatkan produksi radikal bebas. Kondisi ini memicu jalur inflamasi, khususnya NF-κB, yang mendorong pelepasan sitokin seperti IL-6 dan TNF-α.
Tak hanya itu, mikroplastik juga berperan sebagai pengganggu hormon (endocrine disruptor) yang mengacaukan reseptor serta sinyal hormonal penting di plasenta. Struktur pelindung plasenta, yakni tight junctions (protein seperti ZO-1 dan claudin), ikut rusak sehingga barier ibu-janin melemah. Akibatnya, fungsi plasenta dalam menjaga pertukaran nutrisi dan oksigen terganggu. Dampaknya bisa sangat serius: hambatan pertumbuhan janin dalam rahim, preeklampsia, hingga gangguan neurokognitif pada anak.
Artikel ini merupakan bagian dari program fellowship World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia tentang Global Plastic Treaty
Artikel original dapat dilihat di https://www.existensil.com/menelusuri-jejak-mikroplastik-pemicu-autisme-saat-negara-berkutat-pada-wacana/
Download Aplikasi AKSI dan Ambil Peranmu untuk Kurangi Sampah Plastik
Gabung sebagai nasabah Plastic Smart Cities sekarang dan dapatkan berbagai keuntungan dari menjaga lingkungan.
Scan disini
Atau dapatkan di
Panduan Aplikasi AKSI
WWF Indonesia
- Website: https://wwf.id/
- Yotube: @WWFIndonesia
- X: @WWF_ID
- Instagram: @wwf_id
- Tiktok: @wwf_id
Tidak terdapat daftar isi.
Tidak terdapat daftar isi.