Diterbitkan pada 19 November 2025
Oleh: Admin
Dilihat: 731 Kali
Sampah Plastik, Remah yang Berisik di Festival Musik
Source: National Geographic Indonesia
Bagikan

Sebanyak apa sampah plastik yang dihasilkan setiap penyelenggaraan konser musik? Bukankah hanya sehari atau beberapa hari? Mungkin Anda tidak membayangkan, sampah dari festival musik kita bisa mencapai hitungan ton!

 

Nationalgeographic.co.id—Sejumlah anak muda sibuk dengan tumpukan tas plastik bekas di Gudrnd, Jakarta Selatan. Ada yang memilah warna, menggunting, dan menyetika. Huruf dari potongan tas plastik ditata menjadi lirik lagu. Pun ada yang membuat bentuk jamur, ikan, dan aneka benda lain dari tas plastik tersebut.

“Sampah plastik di Papua belum sebanyak di Jakarta. Saya ingin mengajari teman-teman saya di sana untuk mengolah plastik,” kata Julio Christopher, salah satu peserta lokakarya.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari program Operasi Plastik yang diinisasi oleh Synchronize Festival dan Stuffo yang didukung WWF Indonesia. Material yang digunakan sebanyak 90,38 kg merupakan donasi dari warga-wargi—sebutan pengunjung Syncronize Fest. Hasil akhir berupa instalasi yang dipasang di pintu utama perhelatan..

Selain membuka wawasan tentang plastik yang tidak terbayang sebelumnya, Julio bangga ketika namanya pun tertera di instalasi tersebut beserta nama-nama lain. Ia jadi mengingat, sampah plastik di laut utamanya yang dekat dengan permukiman di kampungnya. Tadinya dia tidak berpikir, bahwa laut pun bisa mengangkut sampah dari pulau-pulau jauh ke kampungnya.

Instalasi buatan warga-wargi berupa lorong yang “menenggelamkan” penonton dalam lautan plastik sepanjang 25 meter dengan total tas plastik bekas sebanyak 201,5 kilogram.

“Keren banget sih. Tapi pas tahu kalau ini tu tas plastik bekas, jadi merasa bersalah. Enggak menyangka juga, plastik yang tipis bisa numpuk jadi ratusan kilo begini,” kata Meliana, salah satu pengunjung yang melewati instalasi di venue.

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah Indonesia pada tahun 2023 mencapai 56,63 juta ton. Sekitar 10,8 juta ton atau hampir 20 persen dari total sampah nasional merupakan plastik. Pun tak dipungkiri, perhelatan besar termasuk konser musik juga salah satu penyumbang sampah.

Festival musik tahunan ini digelar di Gambir Expo. Tahun ini digelar pada awal Oktober silam, yang selama tiga hari telah mendatangkan 73.714 pengunjung. Menurut data Greeners, total timbunan sampah yang dihasilkan sebanyak 10.185 kilogram terdiri atas sampah organik sebanyak 781 kilogram, sampah non organik (botol plastik, botol kaca, kaleng) sebanyak 2.123 kilogram, sampah non organik (kardus) sebanyak 669 kilogram, sampah non organik (boncos/kotak kemasan makanan) sebanyak 1.418 kilogram, dan sampah residu 5.194 kilogram. Sampah plastik berada di kategori non organik yaitu boncos, botol, dan sampah residu yang paling banyak.

“Kalau sampah yang high value seperti botol plastik dan kardus, itu sudah ada yang menampung untuk didaur ulang. Sampah organik diolah menjadi kompos dengan magot di Posko Less Waste, di venue. Sedangkan yang dibuang ke landfill adalah yang residu,” kata Syaiful Rochman, CEO Greeners.

Ada sampah lain yang dikelola yang tidak masuk hitungan di atas yaitu spanduk dari vinyl.  Sebagian besar spanduk sudah digantikan dengan elektronik, namun beberapa masih dalam bentuk cetak. Sejatinya, spanduk merupakan kategori sampah yang tidak bernilai karena tidak bisa dijual kembali, sehingga perlu diolah kembali (upcycling). Pada gelaran tahun ini, jumlahnya mencapai 126 kilogram.

“Kami membutuhkan banner yang bersih dan bagus. Jadi sejak awal, memang sudah ada komitmen dari Synchronize Fest untuk mengolah limbah ini. Begitu event selesai, kami mengambilnya sehingga masih bersih. Hal ini bisa menghemat biaya produksi,” kata MG Pringgotono, pendiri Stuffo Lab.

Pada kesempatan lain, Aldila Karina, Director of Communication Synchronise Fest mengatakan bahwa ia memang bermimpi bisa menggelar konser nol sampah—zero waste to landfill. Kendari saat ini ia baru mampu untuk mengurangi sampah plastik dengan berbagai upaya.

Instalasi Operasi Plastik di Main Gate Synchronize Fest yang digelar pada 3-5 Oktober 2025. . Dari lorong plastik yang menyesakkan di Synchronize Fest hingga upaya ambisius menuju konser zero waste, satu hal menjadi terang: persoalan sampah bukan sekadar masalah teknis, melainkan cermin pilihan kita sebagai masyarakat.

Instalasi Operasi Plastik di Main Gate Synchronize Fest yang digelar pada 3-5 Oktober 2025. . Dari lorong plastik yang menyesakkan di Synchronize Fest hingga upaya ambisius menuju konser zero waste, satu hal menjadi terang: persoalan sampah bukan sekadar masalah teknis, melainkan cermin pilihan kita sebagai masyarakat.

 

Sejak tahun 2019, mereka telah mengampanyekan untuk membawa tempat minum sendiri dalam Bring Your Own Tumbler. Tampaknya, belum ada festival musik di Indonesia yang mengampanyekan sebelumnya. Sebagai konsekuensinya, mereka menyediakan stasiun air isi ulang untuk warga-wargi. "Hal ini sebagai upaya kami untuk mengurangi sampah botol plastik sekali pakai,” kata Aldila.

Untuk gelaran tahun depan, mereka akan menjual Loyalty Ticket dengan sebagian hasil penjualan disisihkan untuk penanaman mangrove di Kepulauan Seribu. Mangrove yang ditanam harus bebas dari sampah khususnya sampah plastik agar tumbuh, sehingga mereka juga melakukan kegiatan bersih pantai.

Konser musik lain yang memerhatikan dampak lingkungan yaitu gelaran Sonic/Panic Jakarta pada awal tahun ini di M Bloc Space, Jakarta Selatan. Pentas musik ini diinisiasi oleh IKLIM (The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab). Tak kurang dari 500 penonton menyimak musisi-musisi papan atas seperti Efek Rumah Kaca, Barasuara, Endah N Rhesa, Voice of Baceprot, Navicula, REP & Tuantigabelas, Matter Mos, Petra Sihombing, Made Mawut, dan Bachoxs.

Gede Robi Supriyanto, vokalis dan gitaris Navicula yang juga menjadi salah satu inisiator IKLIM, sejak 2008 kepedulian masyarakat—khususnya seniman—terhadap isu lingkungan semakin meningkat. IKLIM merupakan salah satu wujud kepedulian dari para musisi untuk menyurakan tentang kerusakan lingkungan, minimal dari lingkungan musisi.

Pada saat pelaksanaan, selain seruan melalui musik, Robi dan kawan-kawannya menerapkan prinsip-prinsip untuk mengurangi sampah. Misalnya, pada saat jumpa hingga konser, mereka tidak menyediakan minuman kemasan dalam botol plastik sekali pakai, melainkan dengan kemasan galon. Panitia menyediakan gelas yang bisa dipakai ulang.

Sebenarnya, konser musik minim sampah sudah bermula di luar negeri. Sebagai contoh Glastonburry di Inggris dan Choachella di USA, yang menerapkan prinsip ramah lingkungan dengan ketat. Apakah di Indonesia ada?

Konser Coldplay, Kampanye Konser Nirsampah

Pada akhir 2023, Coldplay menggelar konser dalam tajuk Music of the Spheres World Tour, yang digelar di Gelora Bung Karno Stadium. Mereka menerapkan konsep minim sampah, meski pada akhirnya konser ini masih menghasilkan sampah yang tidak sedikit.

Sekitar 50 ribu penonton konser ini telah menghasilkan sampah sebanyak 11.733 kilogram, yang setara berat 22 mobil sedan. Sampah ini terdiri atas 1.924 kg sampah organik, 6.415,2 kg sampah anorganik+kertas, serta 3.394 kg sampah residu. Sebanyak 400 kilogram sampah B3 ditangani maksimal dan tidak dibuang ke TPA.

“Sangat mungkin menyelenggarakan konser musik zero waste to landfill di Indonesia,” kata Hani H. Sumarno, pendiri dan Direktur Utama PT Javas W4C Acarabaik, yang terlibat dengan payung Waste4Change sebagai sustainability partner termasuk mengelola sampah dari konser Coldplay.

 

Wadah dan alat makan guna ulang pada IKLIM Fest 2023 oleh Taksu Reuse, Allas, dan BALIKIN.

Wadah dan alat makan guna ulang pada IKLIM Fest 2023 oleh Taksu Reuse, Allas, dan BALIKIN.

 

Hani mengisahkan, perhelatan tanpa menyisakan sampah bisa terlaksana bila semua pihak terlibat untuk mewujudkannya. Dimulai dari pemilik tempat konser harus membuat regulasi yang ketat bagi penyelenggara, sampai promotor yang juga harus menjalankan prinsip sama. Pembelajaran dari Coldplay, hal yang paling menentukan dalam konser ini adalah persyaratan dari artis. Mereka punya kekuatan untuk mendorong terwujudnya konser ramah lingkungan di Indonesia, khususnya perkara sampah. Pengelolaan sampah melibatkan multipihak dan tidak bisa dilakukan oleh satu perusahaan saja. Ada perusahaan yang bertumpu pada  layanan kebersihan, ada juga perusahaan pengelolaan limbah B3.

Semua pihak bersama-sama memberikan edukasi kepada penyelenggara dan pengumuman di media sosial jauh hari sebelum pertunjukan, seperti anjuran untuk bawa tempat minum atau tidak mengizinkan membawa minuman kemasan plastik sekali pakai, termasuk kesadaran pengunjung dalam memilah sampah.

 

Tempat penyimpanan sementara untuk wadah dan alat makan guna ulang pada IKLIM Fest 2023 .

Tempat penyimpanan sementara untuk wadah dan alat makan guna ulang pada IKLIM Fest 2023.

 

Pada saat hari pertunjukkan pun mereka memasang rambu-rambu demi terciptakanya lingkungan yang bersih. Misalnya, tempat pengumpulan sampah yang berdesain mencolok bersama petugasnya yang berkostum unik.

Penyelenggara pun harus menyadari bahwa makanan dan minuman menjadi sumber utama timbulan sampah dalam festival musik. Untuk minuman, promotor dan pendukung acara menyediakan air dalam galon, bukan botol plastik sekali pakai.

Untuk makanan, mereka belum bisa sepenuhnya menggunakan plastik yang mudah terurai secara alami. Namun, setidaknya mereka berupaya mengurangi sampah. Demi mengurangi sampah, segala cara patut ditempuh: Panitia makan dengan prasmanan, penjual makanan tidak mengemas berlebihan apalagi untuk makan di tempat. Apabila cukup menggunakan nampan kertas, tidak perlu bungkus tambahan. Panitia juga menyediakan tempat sampah untuk setiap penjual makanan. Apabila ada penjual yang melanggar tidak memilah sampah, mereka akan terkena sanksi.

Tenant kan bayar deposit, kalau melanggar aturan, deposit bisa tidak kembali penuh,” tambah Hani.

Setiap jenis sampah membutuhkan perlakukan berbeda-beda. Sampah anorganik didaur ulang menjadi botol kembali. Sampah residu—misalnya label kemasan, bungkus plastik—dikelola menggunakan metode Refuse-Derived Fuel (RDF) yang mengolah sampah residu menjadi bahan bakar alternatif. Sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan maggot, larva yang memakan sampah organik dan mengeluarkan kotoran berupa pupuk kompos.

Selain pengelolaan sampah, konser ini juga menghitung emisi karbon. Upaya-upaya konser ramah lingkungan mampu mencegah hampir 10.000 kilogram emisi karbon yang mencemari bumi. Setara dengan mengonsumsi 1.110 galon bensin, menanam 163 pohon dalam 10 tahun, dan mengalihkan 374 lampu bohlam ke LED.

Pemerintah berkomitmen untuk melarang penggunaan plastik sekali pakai secara nasional mulai 1 Januari 2030, sesuai dengan Permen LHK No.75 Tahun 2019. Namun turunan dari aturan tersebut, khususnya di penyelenggaran festival, belum tampak hingga saat ini.

“Sejauh ini, kebijakan terkait pengelolaan sampah khususnya sampah plastik tergantung dari promotor masing-masing event,” kata Votter Setiawan selaku General Manager untuk Asosiasi Promotor Musik Indonesia.

 

Salah satu rangkaian edukasi kepada penonton konser Coldplay untuk memilah sampah.

Salah satu rangkaian edukasi kepada penonton konser Coldplay untuk memilah sampah.

 

Dia menyambut baik upaya-upaya untuk lingkungan yang lebih baik. Pada 2023, APMI melaporkan terselenggaranya 3.000 pagelaran di Indonesia yang mendatangkan lebih dari 30 juta pengunjung. Selain Coldplay, konser Black Pink juga mencatat jumlah pengunjung yang tinggi yaitu 80.000 penonton. Kendati demikian, APMI belum memiliki regulasi terkait sampah plastik karena keputusan pada masing-masing promotor. "Hal ini terkait dengan budget biasanya," tambah Votter. "Anggaran untuk konser ramah lingkungan cukup tinggi.” 

Sederet tantangan masih membentang di depan. Selain pendanaan, perusahaan rintisan masih terbatas dalam penyediaan produk ramah lingkungan. Sebagai contoh, penyedia gelas guna pakai yang mampu menyediakan seribu gelas dalam sekali pentas musik. Konsepnya, penonton yang menggunakan gelas akan mencucinya kembali. Untuk perhelatan musik dengan penonton di bawah seribu orang boleh jadi penyedia masih mampu menyediakan gelas ini. Namun, jika pengunjungnya lebih dari sepuluh ribu, perlu modal yang tidak sedikit tentunya.

 

Kantong plastik sampah warna-warni berdasarkan perbedaan jenis sampah di konser Coldplay di Gelora Bung Karno.

Kantong plastik sampah warna-warni berdasarkan perbedaan jenis sampah di konser Coldplay di Gelora Bung Karno.

 

Menanggapi hal ini, Nadia Mulya, dari Langit Biru Pertiwi, perusahaan yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan mengatakan, bahwa tidak harus keseluruhan acara menggunakan produk dari perusahaan rintisan. “Kita bisa mulai dari area kecil, misalnya green room. Baru nanti bisa meluas ke keseluruhan konser. Minimal ada langkah untuk memulai. Saya berharap, APMI mau mendukung ini,” kata Nadia.

Upaya perusahaan rintisan sudah cukup bagus. Pun upaya-upaya di berbagai pusat perbelanjaan yang tidak lagi menyediakan tas plastik sekali pakai. Hanya saja, upaya-upaya ini seperti David melawan Goliath. Perusahaan besar tetap memproduksi barang dengan kemasan yang menghasilkan sampah plastik. Perusahan makanan, minuman, dan barang konsumsi lain masih banyak yang menggunakan kemasan plastik bahkan bungkus saset.

Jika tidak ada ketegasan kita untuk menghentikan, timbulan sampah akan terus memenuhi Bumi. Pemerintah punya kuasa untuk membuat warganya “terpaksa” untuk tidak menggunakan barang dalam kemasan plastik sekali pakai. Atau, penerapan regulasi bagi perusahaan yang menghasilkan sampah plastik harus bertanggung jawab pada semua sampah yang dihasilkannya.

Kita menyadari bahwa konser bukan hanya pesta suara, tetapi juga mesin raksasa yang bisa menumpuk ribuan kilogram sampah dalam hitungan jam. Dari lorong plastik yang menyesakkan di Synchronize Fest hingga upaya ambisius menuju konser zero waste, persoalan sampah adalah cermin pilihan kita sebagai warga kota. Pada akhirnya, sampah konser bukan tentang apa yang kita buang, tetapi tentang masa depan seperti apa yang sanggup kita jaga—atau yang rela kita tenggelamkan.

 

Artikel original dapat dilihat di https://nationalgeographic.grid.id/read/134320440/sampah-plastik-remah-yang-berisik-di-festival-musik?page=all

Download Aplikasi AKSI dan Ambil Peranmu untuk Kurangi Sampah Plastik

Gabung sebagai nasabah Plastic Smart Cities sekarang dan dapatkan berbagai keuntungan dari menjaga lingkungan.

Scan disini

qrcode wwf

Atau dapatkan di

Panduan Aplikasi AKSI

WWF Indonesia

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya

Tidak terdapat daftar isi.

Publikasi Lainnya

Tidak terdapat daftar isi.