Diterbitkan pada 22 May 2024
Admin
JATUH BANGUN RUMAH HARUM
Source: -
Bagikan

Awalnya adalah sebuah kegiatan sosialisasi bank sampah pada awal 2013 yang disampaikan oleh salah satu penggerak bank sampah di Kota Depok. Hermansyah bersama empat wakil warga dari empat kecamatan di Kota Depok, Jawa Barat, hadir dalam kegiatan yang menjelaskan soal jenis sampah serta cara kerja program bank sampah yang menangani sampah organik dan non-organik.

Sosialisasi itu menggugah Hermansyah, juga empat koleganya, untuk menggeluti soal sampah. Kelimanya kemudian bersepakat untuk memulainya dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat di daerahnya soal masalah yang ditimbulkan oleh sampah dan bagaimana bank sampah bisa menanganinya. Sosialisasi itu pun dimulai Januari 2013.

Sosialisasi bank sampah ini dilakukan melalui banyak cara. Ada yang melalui majelis taklim, pengurus rukun tetangga, dan pendekatan kepada tokoh masyarakat. Beberapa calon anggota legislatif juga meminta bantuan untuk mensosialisasikan soal sampah ke daerah pemilihan mereka. Di luar dugaan, respons masyarakat cukup bagus dan beberapa orang menyatakan minatnya membentuk bank sampah unit.

Pada masa-masa awal itu memang sempat muncul pertanyaan, jika bank sampah unit tersedia, akan dibawa ke mana sampah-sampah yang sudah dikumpulkan dari masyarakat itu? Ide yang muncul saat itu adalah meminta bank sampah unit untuk menjual langsung ke lapak. Namun ide tak dipilih karena mengkhawatirkan kontinuitas dan konsistensinya.

Dengan menimbang sejumlah hal, akhirnya diputuskanlah untuk membentuk bank sampah induk di tingkat kecamatan. Hermansyah pun membuat BSI Cilodong. Ide ini memang bisa dibilang nekat. Sebab, saat itu ia belum sepenuhnya paham soal jenis sampah, pemilahannya, hingga rencana penjualannya. Ia memulai bank sampah induk dengan modal mobil box dan gudang bekas usaha pembuatan juz yang luasnya 100 m².

Empat kolega Hermansyah belum bisa membentuk bank sampah induk sehingga sampah dari bank sampah unit yang ada di daerah mereka dikirim ke BSI Cilodong. Sampah yang sudah diambil dari bank sampah unit itu dimasukkan ke dalam gudang dan dikelompokkan berdasarkan asal kecamatannya. Komitmen yang sudah disampaikan waktu itu adalah bank sampah siap menjemput begitu sampahnya tersedia.

Pada masa-masa awal ini, Hermansyah dkk fokus pada mengumpulkan sampah dari sejumlah titik. Pembayaran uang tabungan sampah akan dilakukan pada momentum Hari Raya. Setelah kurang lebih tiga bulan BSI Cilodong beroperasi, sampah yang dikumpulkan sudah memenuhi gudang. Jadi, pekerjaan rumah berikutnya adalah bagaimana menjualnya.

Menjual sampah ternyata tak semua yang dibayangkan Hermansyah. Pada waktu itu ia sudah berusaha mencai informasi soal lokasi penjualan sampah, tapi informasi tak kunjung didapatkannya. Saat gudang mulai penuh, ia tak punya pilihan selain harus segera menemukan lapak pengumpul sampah. Gudang harus mulai dikosongkan dan harus ada uang yang masuk untuk dibayarkan pada nasabahnya.

Hermansyah memakai cara tradisional untuk mendapatkan informasi soal lokasi penjualan. Ia memulainya dengan membuntuti mobil yang tampak sedang membawa tumpukan sampah. Seperti sudah diduga, mobil itu dipastikan akan pergi ke lokasi pengepul sampah yang ternyata masih berada di area Depok. Cara itulah yang kemudian mengantarkan dia mengetahui lokasi pengepul sampah.

Setelah mengetahui lokasi pengepul itu, Hermansyah kemudian membawa sampah BSI Cilodong. Menjual sampah ternyata tak semudah yang ia kira. Pengepul hanya menerima jenis sampah tertentu dengan klasifikasi yang jelas. Pada penjualan pertama itu, sampah yang terjual sedikit karena sampahnya masih bercampur antara satu jenis dengan yang lain. Baru disadari bahwa BSI Cilodong perlu tenaga yang mahir memilah sampah.

 

Masalah Di Awal Usaha

BSI Cilodong awalnya ditangani oleh Hermansyah dan satu orang dekatnya. Jumlah itu tentu tidak memadai untuk menangani bank sampah yang beroperasi setidaknya di empat kecamatan itu. Mereka memerlukan orang yang mengerti soal sampah, mulai dari pemilahan sampai penjualannya. Masalah ini terpecahkan setelah ia mendapatkan seseorang yang ahli soal pemilahan sampah yang pernah bekerja di Tempat Pemrosesan Akhir Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.

Hermansyah memberikan kewenangan sepenuhnya kepada tim baru itu. Ia hanya datang dalam sejumlah kesempatan untuk melakukan pengecekan. Tanpa sepengetahuan Hermansyah, ternyata tim pengelola yang baru ini kerap menjual sampah secara sembunyi-sembunyi. Masalah serius itu diketahui saat waktu untuk membayar uang sampah kepada nasabah.

Seperti biasanya, nasabah bank sampah mengambil uangnya pada momen-momen seperti menjelang Lebaran. Pada tahun 2014 itu, BSI Cilodong harus menyediakan dana Rp20.000.000 untuk membayar uang sampah kepada nasabahnya. Saat dia mengecek ke bank sampah, uang tidak ada meski sampah di gudang sudah kosong karena ulah pengelola baru bank sampah ini.

Menghadapi situasi sulit ini, Hermansyah akhirnya memilih menyampaikan masalah yang dihadapinya kepada para pengurus lainnya, dan juga para nasabah. Ia menyampaikan masalah yang dihadapinya, mulai dari minimnya pengetahuan soal persampahan hingga pengelola baru yang ternyata mengkhianati kepercayaan yang diberikannya.

Sebagian nasabah bisa memahami kesulitan itu dan menyatakan masih bisa menoleransi penundaan pembayaran tidak dilakukan saat itu juga. Namun ada nasabah lain yang sangat membutuhkan uang tersebut segera. Pengurus BSI Cilodong akhirnya fokus mencari pinjaman untuk membayar uang nasabah yang benar-benar sangat membutuhkan uang tersebut. Setelah peristiwa itu, Hermansyah memutuskan untuk terjun langsung menangani bank sampah.

 

Dari BSI Cilodong Menjadi Rumah Harum

BSI Cilodong kemudian memperbanyak nasabah dengan meningkatkan layanan kepada pelanggan. Jika ada warga yang minta diberi sosialisasi soal sampah, pengurus tak sungkan untuk datang meski lokasinya jauh. Dalam sosialisasi itu disampaikan bahwa bank sampah juga berkomitmen untuk membeli sampahnya. Harapannya, itu akan membangun reputasi yang baik buat bank sampah induk ini.

Pada tahun 2015, Hermansyah mendapat kesempatan dari Pemerintah Kota Depok untuk ikut studi banding ke Kota Osaki Jepang selama 14 hari untuk mengikuti pembelajaran tata kelola sampah berbasis pemilahan dan pengelolaan sampah dengan non-insenerator. Studi banding itu memberinya pemahaman tentang jenis-jenis sampah dan pengelolaannya.

Tahun 2015, upaya BSI Cilodong untuk memperbesar nasabah menjadi kenyataan. Mereka bisa menjemput sampah di 200 sampai 300 titik. Jumlah itu terus bertambah dan puncaknya pada 2017. Bersamaan dengan itu, sejumlah koleganya yang membuka bank sampah induk juga kolaps. Nasabahnya dialihkan ke BSI Cilodong. Dengan wilayah jangkauan yang makin luas, BSI Cilodong lantas berubah nama menjadi BSI Depok Bersih pada tahun 2018.

Dengan nama baru ini, aktivitas pengumpulan sampah tambah intensif dan bisa berlangsung hingga malam. Ternyata ini berdampak pada kesehatan para pekerja bank sampah dan inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab hampir kolapsnya BSI Depok Bersih ini pada awal 2018. Biaya operasional yang ditanggung bank sampah tidak sebanding dengan uang yang dihasilkannya. Bank sampah juga menyatakan tak sanggup lagi mengangkut semua sampah dari bank sampah unit.

Hermansyah berusaha menyelamatkan bank sampah itu dengan bertemu Walikota Depok Nurmahmudi Ismail dan sejumlah lembaga, termasuk Lembaga Zakat. Upayanya tidak sia-sia. Lembaga zakat melihat bank sampah ini sebagai inisiatif yang layak didukung. Dukungan berupa dana dari lembaga zakat ini seperti darah segar bagi hidup bank sampah.

Dana baru yang didapatkan dari badan zakat ini digunakan untuk membayar tunggakan pembayaran kepada nasabahnya yang ratusan itu. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, BSI menyadari bahwa mereka harus realistis soal jumlah nasabah yang bisa dilayani. Sebagian nasabahnya akhirnya dialihkan ke sejumlah bank sampah unit yang baru berdiri di Depok. Pada tahun itu pula nama BSI Depok Bersih diubah menjadi BSI Rumah Harum.

 

Covid-19 Dan Donasi Sampah

Krisis di tahun 2017 itu memaksa BSI Rumah Harum mengubah sejumlah pola kerjanya. Setelah sempat memiliki nasabah lebih dari 200, pada 2018 itu jumlahnya menyusut menjadi 60 Bank Sampah Unit, lalu menjadi 110 Bank Sampah Unit pada tahun 2023. Adapun nasabah individualnya lebih lebih dari 1000 karena masing-masing BSU memiliki nasabah individual berkisar 30 sampai 100 orang.

Ada beberapa jenis nasabah di BSI Rumah Harum. Nasabah reguler itu untuk mereka yang menyetorkan sampah dan kemudian mendapatkan pembayaran. Namun nasabah jenis lain ada yang namanya nasabah yang sampahnya tidak dijual melainkan didonasikan kepada BSI. Konsep donasi sampah ini mulai dipakai tahun 2000 tak lama setelah Indonesia dihantam pandemi Covid-19.

Pandemi itu memaksa orang untuk membatasi diri untuk berinteraksi dengan orang lain, atau bepergian. Situasi ini menyebabkan bank sampah unit tak bisa beroperasi. Sementara sampah tak pernah ada habis-habisnya. Untuk mengisi kekosongan akibat absennya bank sampah unit ini, BSI Rumah Harum mengenalkan konsep donasi sampah ini.

Masyarakat yang punya sampah non-organik dan ingin mendonasikannya, ia bisa menghubungi BSI. Tak berselang lama tim dari BSI akan datang menjemput dari rumah ke rumah. Umumnya mereka yang berdonasi sampah ini adalah warga yang tinggal di kawasan perumahan. Ada juga warga yang mendonasikan sampahnya dengan cara mengirimkan sampahnya melalui jasa kurir.

Setelah pandemi usai, BSI Rumah Harum terus berkembang dan juga mendapatkan pengakuan. Sampai tahun 2023 lalu, sampah yang dikelola 60 sampai 80 ton per bulan dengan omset Rp100.000.000 - 150.000.000 per bulan. Fungsi edukasinya juga berjalan. Umumnya berupa kunjungan dari lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan yang ingin belajar soal pengelolaan sampah. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pernah datang ke bank sampah ini.

BSI Rumah Harum juga mendapatkan penghargaan atas kiprahnya dalam pengelolaan sampah. Pada tahun 2017 penghargaan datang dari Pemerintah Kota Depok untuk kategori masyarakat yang peduli lingkungan. Pada Desember 2023 lalu juga ada penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk kategori bank sampah berbasis masyarakat, yang diberikan saat peringatan Cipta Puspa Fauna dan Flora.

BSI Rumah Harum kemudian mendapatkan kesempatan bermitra dengan WWF-Indonesia melalui Program Plastic Smart Cities pada November 2022. Melalui skema ini, ada bantuan operasional berupa mobil angkutan yang diberikan. Ini menambah armada dari yang sudah dimiliki bank sampah ini sebelumnya. Dukungan kendaraan ini membuat jumlah sampah non organik yang sudah terpilah itu mencapai 1-2 ton perhari.

Bantuan lain yang diberikan berupa mesin-mesin yang mendukung pengolahan sampah plastik. Dengan alat ini, BSI Rumah Harum tak hanya mengumpulkan sampah non-organik dan menjualnya ke pengepul. Dalam pengembangan ke depan, fasilitas ini akan digunakan untuk mengolah sampah-sampah plastik itu agar bisa memiliki nilai lebih tinggi, yaitu dengan membuatnya sebagai produk.

Selain sarana dan prasarana, dukungan penting lain dari WWF adalah penguatan sumber daya manusia pengelola bank sampah induk ini. Salah satu pelatihan yang diberikan adalah dengan mengirimkan tim BSI untuk mengikuti pendidikan soal manajemen di PPM. Di sana mereka belajar antara lain soal ekonomi sirkular, pengelolaan keuangan dan pengembangan bisnis.

 

Upaya Merintis Koperasi

BSI Rumah Harum merumuskan sejumlah rencana pengembangan ke depan. Salah satunya adalah memperluas lagi jumlah cakupan nasabah. Sebab, selama ini masih cukup banyak nasabah yang belum bisa dilayani oleh bank sampah induk ini. Seiring dengan makin banyaknya promosi melalui media sosial, permintaan untuk menjemput sampah kini juga disampaikan melalui media sosial BRI Rumah Harum.

Ada dua tujuan yang ingin dicapai dengan penambahan nasabah ini. Pertama, BSI Rumah Harum ingin memperbanyak jumlah nasabah yang bisa dilayani, yang itu tentu saja makin mungkin dilakukan dengan adanya sejumlah sarana dan prasarana baru yang dimilikinya. Kedua, penambahan nasabah ini secara otomatis juga memperbesar volume sampah yang bisa dikumpulkan, sehingga semakin sedikit yang berakhir di tempat pembuangan sampah.

Agenda pengembangan kedua BSI Rumah Harus berhubungan dengan masalah keuangan. Di masa mendatang akan ada pemisahan antara operasional bank sampah induk dengan lembaga yang mengelola keuangannya. Jadi, nantinya bank sampah induk fokus menangani penolahan sampahnya. Sedangkan pengelolaan keuangan nasabah akan ditangani oleh lembaga keuangan terpisah yang bentuknya berupa koperasi.

 

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya
Publikasi Lainnya