Diterbitkan pada 16 January 2024
Admin
KOLABORASI BARU KELOLA SAMPAH PLASTIK DI DKI JAKARTA, KOTA BOGOR, DAN DEPOK
Source: WWF-Indonesia / Karina Lestiarsi
Bagikan

Oleh Arum Kinasih

WWF-Indonesia melalui Program Plastic Smart Cities (PSC) luncurkan kerjasama baru dengan 3 lembaga dari Indonesia, yakni PT. KIBUMI, PT. WASTE4CHANGE dan Konsorsium RECO: PT. Million Limbah Indonesia, PT. Khazanah Hijau Indonesia (Rekosistem) dan SweepSmart. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat kerja program PSC dalam mengatasi kebocoran plastik di alam sebanyak 30% hingga 2025.  

Kerjasama baru yang akan dilakukan di DKI Jakarta, Kota Depok dan Kota Bogor bertujuan untuk meningkatkan sistem pengumpulan sampah dan daur ulang plastik secara optimal. Selain itu juga menciptakan sinergitas kegiatan antara para pemangku kepentingan pengelolaan sampah plastik setempat dengan ketiga lembaga tersebut. 

Mengapa kerjasama ini difokuskan pada kota? Data dari Making Oceans Plastic Free (2017) menyatakan rata-rata ada 182,7 miliar (lembar) kantong plastik digunakan di Indonesia setiap tahunnya, jika ditotal berat maka angkanya mencapai 1.278.900 ton per tahunnya. Dari total berat tersebut, sekitar sebesar 56,7 persen timbulan sampah nasional merupakan kontribusi dari hanya 58 kota dan kabupaten di Indonesia. Sisanya merupakan kontribusi dari daerah lain. Jadi terbukti bahwa kota merupakan penyumbang sampah plastik yang utama dan biasanya infrastruktur pengelolaan limbahnya yang terbatas. Terlebih lagi data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, total timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2022 mencapai sebesar 36,1 juta ton dan 18.07% merupakan sampah plastik. 

Untuk mengurangi tekanan sampah plastik yang masuk ke alam khususnya di perkotaan, maka WWF-Indonesia melalui program Plastic Smart Cities berupaya mendorong kota-kota yang merupakan penghasil utama sampah plastik untuk mengurangi kebocoran sampah plastik ke alam.  

Aditya Bayunanda, CEO Yayasan WWF Indonesia dalam sambutannya mengatakan “Kerjasama baru ini adalah salah satu upaya kami dalam memperkuat penanganan sampah plastik”. Lanjut Aditya,”Kami sangat berharap ketiga mitra baru ini akan menghasilkan dampak secara signifikan untuk menangani sampah plastik di Jakarta, Bogor dan Depok. Lebih penting lagi, mereka dapat memberikan inspirasi dan juga menggerakan semua pihak untuk dapat mengelola sampah plastiknya, termasuk pihak korporasi”.   

Ketiga mitra ini akan melakukan beragam aktivitas dalam pengurangan sampah plastik. PT. KIBUMI akan membangun platform digital terintegrasi bagi pemulung, sistem perencanaan sumber daya perusahaan (EPR) dan POS untuk pengepul barang bekas dan Bumi Hubs, dan pemilik merek dan perusahaan daur ulang serta menyediakan program pelatihan menyeluruh untuk pekerja sampah informal mengenai manajemen keuangan, sistem perawatan kesehatan, dan keselamatan lingkungan.  

Selanjutnya, Konsorsium RECO akan membangun Plastic Smart Recovery Hub yang akan memilah dan mendaur ulang sampah yang dikumpulkan dengan lebih efisien dan tingkat pemulihan yang lebih tinggi. Sementara itu PT. WASTE4CHANGE berencana mendirikan dan meningkatkan dua fasilitas produksi dengan mitra sektor informal, mengirimkan sampah plastik fleksibel ke tempat daur ulang dan mengintegrasikan fasilitas dan rantai nilai ke dalam program Kredit Plastik oleh rePurpose Global (dengan Standar Verra). 

Setyawati, Kepala Bidang Tata Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor dalam sambutannya menyampaikan “Kota Bogor merupakan kota pertama yang ikut deklarasi dalam Plastic Smart Cities pada Agustus 2021. Kami terus berupaya mengelola sampah dari sumbernya dan mendorong masyarakat untuk memilah sampah dari rumah tangga. Tambah Setyawati, “Kami mengajak semua pihak untuk terus berkolaborasi dalam upaya pengurangan sampah, terutama di wilayah perkotaan. Ini memerlukan upaya kolaborasi karena mengelola sampah itu tidak bisa sendiri.” 

Melalui program kolaborasi ini WWF-Indonesia berharap dapat menghasilkan dampak besar yang menggerakan semua pihak untuk ikut serta dalam mengurangi kebocoran plastik ke alam. 

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya
Publikasi Lainnya