Diterbitkan pada 20 May 2024
Admin
PENDAMPINGAN KELOMPOK RENTAN MENJELMA BANK SAMPAH
Source: -
Bagikan

Cerita soal Bank Sampah Induk Kumala bermula dari sebuah aktivitas pendampingan anak jalanan di sekitar Tanjung Priok pada tahun 2004. Saat itu ada program Kementerian Pemuda dan Olah Raga untuk mendampingi anak jalanan. Dindin Komarudin yang mengawalinya dengan melakukan pendampingan terhadap sekitar 30 anak jalanan yang berada di sekitar rumahnya.

Pendekatan awal yang dipakai untuk mendampingi anak jalanan itu adalah melalui kegiatan keagamaan dan pendidikkan. Harapannya adalah mereka bisa keluar dari aktivitasnya lamanya, mulai dari terlibat dalam pencurian kendaraan bermotor, tindakan kekerasan hingga memakai narkotika dan obat berbahaya lainnya. Metode ini ternyata tak membuat mereka sepenuhnya keluar dari aktivitas masa lalunya. 

Dianggap tak mempan memakai pendekatan itu, akhirnya muncul ide melakukan aktivitas daur ulang sampah dengan memanfaatkan yang ada di sekitarnya. Hasil dari daur ulang itulah yang kemudian dipakai sebagai bahan untuk membuat aneka handicraft seperti paper bag, frame foto, dan sejumlah asesoris lainnya. Untuk menaungi aktivitas baru ini, mereka membentuk kelompok yang diberi nama Gallery K’Qta pada 2006.

Aktivitas daur ulang ini terbukti cukup efektif untuk mencegah mereka kembali ke jalanan dan banyak sibuk di kegiatan daur ulang. Pada tahap awal ini, memang kualitas produknya masih seadanya. Pernah ada kejadian ada seseorang datang ke sekretariat Gallery K’Qta dan membeli barang hasil daur ulang. Setelah dia pulang, ternyata dia meninggalkan barang yang dibelinya itu di jalan. Peristiwa itu tak membuat mereka surut dan malah memcu semangatnya untuk meningkatkan kualitas hasil daur ulangnya. 

Aktivitas memilah sampah dengan melibatkan anak jalanan menjadi masalah tersendiri pada awalnya. Ada stigma negatif yang tertanam di masyarakat, khususnya di sekitar sekretariat Gallery K’Qta. Apalagi sebagian pemuda jalanan itu salah satunya ada dari kelompok yang pernah menjadi pembicaraan karena aktivitas kekrasannya, yaitu kelompok kapak merah. 

Pernah ada satu kejadian di mana tetangga di dekat sekretariat kehilangan laptop. Kecurigaan langsung mengarah kepada anak-anak yang berada di Gallery K’Qta. Mereka tak hanya bergunjing tapi mendatangi sekretariat dan menggeledahnya. Stigma negatif itulah yang membuat kelompok Gallery K’Qta beberapa kali pindah markas.

Stigma negatif ini tentu saja mengganggu kelompok Gallery K’Qta. Situasi inilah yang menjadi salah satu pendorong para pengurus untuk memiliki badan hukum bernama Yayasan Kumala pada tahun 2008. Adanya badan hukum ini diharapkan menjadi payung semua aktivitas kelompok ini, dan memudahkan untuk sosialisasi kepada masyarakat tentang aktivitas mereka. 

Pandangan buruk ini perlahan-lahan mulai luntur setelah muncul pengakuan terhadap aktivitas Yayasan Kumala sejak 2010. Sekretariat makin banyak didatangi tamu dari luar yang ingin melihat aktivitas daur ulang. Mereka yang datang tidak hanya dari wakil pemerintah, tapi juga lembaga swadaya masyarakat dan organisasi dari luar negeri, salah satunya dari Jepang. 

Pengakuan dari luar ini membuat masyarakat makin terbuka menerima kelompok ini. Apalagi yayasan juga mulai melibatkan anak-anak dari daerah sekitar untuk terlibat dalam kegiatan daur ulang ini. Terutama anak-anak yang rentan untuk berada di jalanan. Karena merasakan dampak baik secara langsung, yayasan dan aktivitasnya akhirnya bisa diterima dan malah tak boleh pindah sekretariatnya. 

Selain diterima masyarakat sekitar, dukungan juga datang dari pengurus RT, RW, lurah hingga camat. Sekretariat mereka yang berada di Sungai Bambu Tanjung Priok Jakarta itu statusnya masih mengontrak, yang lahannya sekitar 300 meter. Selain berfungsi sebagai sekretariat, juga kemudian berfungsi sebagai gudang saat yayasan mulai menjadi bank sampah.

 

Membangun Bank Sampah

Tahun berganti, kemampuan anak-anak jalanan di Galeri Gallery K’Qta terus berkembang. Produk yang dihasilkan pun meningkat kuantitas dan kualitasnya. Bahkan salah satu produk daur ulang kertasnya bisa dijual di Toko Buku Gramedia dengan menggandeng salah satu distributor souvenir di Bandung, Jawa Barat. Setiap tahun produksi yang makin banyak ini kemudian melahirkan masalah baru: pasokan bahan mentahnya mulai kurang. 

Kebutuhan akan bahan mentah inilah yang kemudian mendorong pembentukan Bank Sampah Kumala pada tahun 2016. Salah tujuan awalnya adalah untuk mengumpulkan bahan baku kertas dari lingkungan sekitar dengan cepat dan mudah. Dalam perkembangannya sampah yang diterima tidak hanya jenis kertas saja, tetapi juga sampah anorganik lainnya seperti plastik dan lain-lain.

Pada Tahun 2019 Bank Sampah Kumala menerima penghargaan dari Gubernur Provinsi DKI Jakarta sebagai Bank Sampah Terbaik tingkat provinsi. Di tahun yang sama Bank Sampah Kumala juga mulai menyentuh kelompok pemulung yang notabenenya mereka sudah terampil dalam memilah sampah namun belum punya kesadaran menabung sampah. 

Awalnya Bank Sampah Kumala hanya memiliki nasabah dari anak-anak binaan yang masuk pada kategori rentan anak jalanan. Kategori anak jalanan rentan ini adalah anak-anak yang masih memiliki keluarga dan tempat tinggal tapi sesekali pernah beraktivitas di jalanan untuk mengamen. 

Kegiatan bank sampah kemudian semakin berkembang dengan bertambahnya nasabah di luar anak-anak. Jumlah nasabah bank sampah pada tahun 2022 sudah mencapai 300 nasabah dengan rata-rata tonase sampah yang dikelola mencapai 1,5 - 2 ton tiap bulannya. Bank Sampah Kumala mendirikan lembaga usaha dalam bentuk koperasi sebagai payung hukum dalam menjalankan aktivitas bisnis/usaha dalam pengelolaan sampah. 

Pada tahun 2022, Bank Sampah Kumala didorong oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Utara dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta untuk menjadi Bank Sampah Induk (BSI) di Jakarta Utara. Untuk perubahan status ini, BSI Kumala mendapatkan pendampingan terlebih dahulu tentang gambaran umum pengelolaan sampah sebelum akhirnya memutuskan siap. 

Proses verifikasi pun dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta sebagai sebuah langkah administratif yang kemudian disahkan melalui Surat Keputusan (SK) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta pada 24 Maret 2023 dengan Nomor e-0069 Tahun 2023 tentang Susunan Kepengurusan Bank Sampah Induk Kumala Jakarta Utara Periode Tahun 2023 - 2026. 

Pasca terbitnya SK BSI Kumala pada Maret 2023, ternyata belum ada dukungan lanjutan berupa pendampingan dan sarana prasarana dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Utara ataupun Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. Sebab, dukungan itu diperlukan agar BSI siap menjalankan amanat lebih besar sebagai bank sampah induk.

Dukungan justru datang dari WWF-Indonesia. Setelah melalui pembicaraan pada 25 Mei 2023, WWF-Indonesia dan Yayasan Kumala menyepakati “Program Pengembangan Bank Sampah Induk Kumala dalam Pengelolaan Sampah Plastik di Jakarta Utara”. Sebagai bagian dari kerjasama itu, WWF memberikan dukungan sarana-perasarana seperti mobil pick up, timbangan, dan juga laptop. 

Bantuan lainnya dari WWF berupa mesin press listrik dengan kapasitas lebih besar, untuk menggantikan mesin press diesel yang sebelumnya dimiliki BSI Kumala. Penggunaan mesin press diesel tak menarik untuk dilanjutkan karena suaranya yang bising sehingga mengganggu tetangga. Sebenarnya bank sampah sudah punya mesin press listrik, tapi kapasitasnya kecil, yaitu hanya bisa mengolah 20 sampai 25 kg. Mesin press baru dari WWF bisa mengolah 40 sampai 50 kg. 

Pada awalnya, aktivitas BSI Kumala masih sederhana. Masing-masing daerah dibagi menjadi kelompok-kelompok, seperti kelompok Kebun Bawang, kelompok Tanah Merah dan seterusnya. Tim dari bank sampah akan menjemput sampah itu seminggu sekali. Setelah jumlah nasabah bertambah, pengambilan menjadi 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Setelah menjadi BSI, pengambilan sampahnya dilakukan tiap hari. 

Sistem pengambilan sampahnya berdasarkan dari jumlah sampah yang tersedia. Kalau ada bank sampah unit yang sudah mengumpulkan sampah di bawah 100 kg, pengambilannya akan dijadwalkan pada hari yang sama dan sesuai jadwal dari tim BSI Kumala. Sedangkan jika ada bank sampah unit yang memiliki sampah di atas 100 kg, pengambilannya bisa dilakukan secara terpisah. 

Proses collecting dilakukan dalam dua mekanisme, yaitu: (1) Penyetoran langsung kepada BSI Kumala. (2) Penjemputan sampah dari titik lokasi kelompok. Sampah yang terkumpul dari nasabah, sebagian didaur ulang menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi seperti kertas seni daur ulang/handycraft, produk alat makan dan minum dari sampah kayu, dll. Untuk sebagian sampah yang belum bisa dikelola menjadi produk, dilakukan penjualan ke mitra.

 

Edukasi dan Pengembangan

Sedari awal pendiriannya, sudah ada fungsi edukasi yang dijalankan oleh BSI Kumala, yang sebeumnya berawal dari kelompok Gallery K’Qta. Pada saat itu, keterampilan anak jalanan itu mendaur ulang sampah membuat mereka kerap diminta melatih kelompok-kelompok masyarakat yang berada di Indramayu, DKI Jakarta dan sejumlah kota di Kalimantan, Riau, Aceh, dan Papua.

Setelah menjadi BSI Kumala, fungsi edukasi itu terus berlanjut dengan adanya kunjungan dari masyarakat atau lembaga pendidikan untuk datang. Setidaknya ada sejumlah wakil dari daerah yang datang ke BSI Kumala. Antara lain, tiga pejabat daerah dari luar Jakarta. pada Oktober 2023 lalu, Bupati Belu datang langsung untuk melihat bank sampah ini dan meminta agar datang ke daerahnya untuk mengajarkan keterampilan ini. 

Selain menghadiri undangan dan permintaan untuk mengisi pelatihan, BSI Kumala juga beberapa kali mengisi pelatihan soal pengelolaan sampah kepada siswa SMA. Salah satu kegiatannya yang digelar Februari 2023 lalu adalah mengundang wakil seluruh SMA di Jakarta Utara. BSI Kumala mengisi acara pelatihan lingkungan dalam acara tersebut.

Saat ini BSI Kumala memiliki nasabah perorangan sebanyak 540 orang, 7 perusahaan dan 25 bank sampah unit, dua sekolah dan 1 instansi. Bantuan WWF ini juga membantu meningkatkan sampah yang bisa dikelola oleh BSI Kumala. Hingga Desember 2023, rata-rata sampah yang bisa dikelola mencapai 11 ton per bulan, di antaranya 6-7 ton adalah sampah plastik. 

Nasabah BSI Kumala dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu untuk perorangan dan perusahaan. Untuk kategori perorangan dibagi menjadi tiga: Jenis tabungan reguler, tabungan pendidikan dan tabungan hari raya. Untuk perusahaan, ada dua jenis, yaitu tabungan lingkungan dan tabungan sosial. 

Jenis tabungan Regular, yaitu jenis tabungan yang dana tabungannya bisa diambil setelah aktif menjadi nasabah sekurang-kurangnya dua bulan dan atau jumlah tabungannya sudah mencapai saldo sebesar Rp200.000 (Dua Ratus Ribu Rupiah). 

Jenis tabungan Pendidikan, yaitu jenis tabungan yang dana tabungannya hanya bisa diambil setiap semester kenaikan kelas anak sekolah dan atau kebutuhan untuk anak sekolah. 

Jenis tabungan Hari Raya, yaitu jenis tabungan yang dana tabungannya hanya bisa diambil setiap menjelang Hari Raya Besar Agama, seperti Idul Fitri, Natal, dll. 

Jenis tabungan Lingkungan, yaitu jenis tabungan yang dana tabungannya dipergunakan untuk pembayaran produk daur ulang yang diproduksi oleh BSI Kumala.

Jenis tabungan Sosial, yaitu jenis tabungan yang dana tabungannya dipergunakan untuk kegiatan sosial yang ada di Yayasan KUMALA seperti santunan bagi anak binaan, pemberian permakanan/sembako, kegiatan pendidikan (beasiswa), kegiatan keagamaan, dll. 

Setelah berdiri kurang lebih tujuh tahun, ada sejumlah sarana dan prasarana yang dimiliki. Ada gudang penyimpanan dengan kapasitas penyimpanan barang maksimal 5-6 ton, satu unit timbangan duduk kapasitas 100 kg dan dua unit mesin press. Setidaknya ada 3 alat angkut yang tersedia, yaitu satu mobil pick-up kapasitas maksimal 800 - 900 kg, satu mobil box kapasitas maksimal 300 - 400 kg dan satu unit gerobak motor. 

Saat ini sumber daya manusia di BSI Kumala terdapat 11 orang. Empat di bidang administrasi. Selebihnya di tim lapangan. Ke depan, ada sejumlah upaya pengembangan yang akan dilakukan. Salah satunya adalah pengembangan jumlah anggota. Sebab, masih banyak BSU yang belum bermitra dengan BSI Kumala. Setidaknya masih terdapat 300-an BSU yang ada di 3 kecamatan (Tanjung Priok, Koja, dan Cilincing) yang sangat berpeluang terbuka untuk menjadi mitra atau nasabah. 

Hal lain yang juga menjadi tantangan bagi BSI Kumala adalah ini. Pertama, banyak permintaan dari nasabah perusahaan dalam pengelolaan sampah khususnya untuk dikelola menjadi sebuah produk upcycling yang akan digunakan oleh perusahaan itu sendiri. Kedua, juga ada keluhan dari nasabah terkait dengan keterlambatan penjemputan sampah non-organiknya dikarenakan keterbatasan alat angkut dan overloadnya gudang BSI Kumala.

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya
Publikasi Lainnya