Diterbitkan pada 21 May 2024
Admin
GELISAH LINGKUNGAN BERBUAH BANK SAMPAH
Source: -
Bagikan

Awalnya adalah keresahan warga terhadap kondisi lingkungan di sekitar RW 08 Kedung Jaya Tanah Sareal, Bogor, Jawa Barat, yang kurang nyaman. Daerah ini dikelilingi oleh perumahan, perkampungan, sekolah, warung dan gerobak makanan sehingga banyak ditemui timbunan sampah. Pembakaran sampah juga cukup marak oleh warga sekitar.

Nurita Eryani, pada tahun 2018, itu merupakan ketua RW 08. Ia tergerak mengumpulkan warga untuk mencari solusi atas masalah lingkungan ini. Ia pun mengundang warga untuk bertemu membahas masalah ini. Agenda yang dituangkan dalam undang aladah membahas “Gerakan Cinta Lingkungan Bersih Hijau dan Sehat.” 

Warga yang datang memenuhi undangan itu jauh dari harapan. Dari 550 kepala keluarga yang diundang, yang datang hanya 18 orang. Namun rapat diputuskan untuk tetap jalan sesuai rencana. Agena yang dibahas adalah bagaimana mengatasi masalah sampah di sekitar mereka itu. Rapat belum menemukan solusi untuk mengatasinya. Namun mereka menyepakati untuk membuat pertemuan kedua dengan mengundang orang yang ahli soal penanganan sampah. 

Pertemuan kedua digelar beberapa hari kemudian. Peserta yang datang bukannya lebih banyak, tapi justru sebaliknya hanya 12 orang. Sesuai permintaan warga, ikut juga dalam pertemuan itu Bapak Darga, orang yang dikenal memiliki pengetahuan soal pengelolaan sampah. 

Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, kali ini peserta pertemuan sudah mendapatkan gambaran bagaimana menangani masalah ini sampah. Salah satu usulan yang muncul adalah membentuk bank sampah dan warga disarankan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Depok.

 

Delapan Pendiri Bank Sampah

Warga kembali melakukan pertemuan pada pekan berikutnya. Jumlah warga yang datang ternyata lebih sedikit lagi: cuma 8 orang. Pegawai Dinas Lingkungan Hidup datang dalam pertemuan ini dan memberikan penyuluhan tentang tentang pilah sampah organik dan an-organik serta pembentukan bank sampah. Salah satu syarat yang dibutuhkan untuk pembentukan bank sampah ini adalah ada surat keterangan dari kelurahan.

Delapan orang yang hadir dalam pertemuan itu kemudian bersepakat membentuk bank sampah. Rencana itu menjadi kenyataan pada September 2019 saat Bank Sampah Bersih Istiqomah resmi dideklarasikan. Sebagai bank sampah, mereka pun memerlukan modal awal untuk operasional. Pengurus menyepakati untuk untuk mengeluarkan modal semampunya dengan hitungan 1 lembar kwitansi bernilai Rp25.000 per lembar. Kwitansi laksana saham itu terjual kepada pengurus sebanyak 56 lembar dengan nilai nominal Rp1.400.000, yang itu akan menjadi modal awal kegiatan bank sampah ini. 

Struktur organisasi itulah yang disampaikan kepada kelurahan. Lurah Kedung Jaya kemudian mengeluarkan persetujuan atas pembentukan bank sampah ini pada 1 Oktober 2019. Sekretariat bank sampah ini berada di Jalan Pelita Jaya II No 41A RT 03 RW 08 Kelurahan Kedung Jaya Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor, Jawa Barat.

 

Empat Metode Sosialisasi

Pada tahap awal pengurus menyusun sejumlah strategi untuk mensosialisasikan bank sampah ini. Mereka membagi rencana kerjanya berdasarkan metode yang dipakai dalam mengenalkan bank sampah ini: Walk and talk; Door to door; Membagi flyer; Membagikan broadcast ke dalam grup WhatsApp; dan melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi massal.

Strategi Walk and talk dilakukan dengan cara menyapa orang yang bertemu di manapun. Setelah menyampaikan salam dan perkenalan, mereka akan menyampaikan soal praktik pilah sampah yang sedang mereka gagas dan proses penimbangannya — yang kemudian dikonversi dengan nilai uang. 

Dalam metode door to door, penggurus mengetuk pintu dari satu rumah warga ke rumah warga lainnya. Setelah menyampaikan salam dan perkenalan, mereka mensosialisasikan soal pemilahan sampah. Tak hanya itu. Mereka juga mempraktikkan secara langsung pemilahannya. Di akhir sesi pengurus akan mengundang warga datang dalam jadwal penimbangan. 

Untuk sosialisasi melalui flyer, pengurus membagikan kertas berisi promosi soal pilah sampah dan contoh gambar barang-barang yang terpilah. Flyer tersebut diberikan pengurus bank sampah kepada orang yang dikenal maupun tidak kenal. Sasarannya tidak hanya untuk warga RW 08, tapi juga RW tetangga. 

Dua metode lainnya adalah pengurus membagikan broadcast setiap hari ke dalam grup WhatsApp warga soal isu lingkungan dengan materi yang berbeda-beda. Satu metode lainnya adalah dengan sosialisasi secara massal. Salah satunya adalah dengan memberikan edukasi ke setiap sekolah dengan tema pemilahan sampah dari sumbernya. 

Empat metode sosialisasi itu dilakukan dalam kurun waktu sebulan. Hasilnya cukup menggembirakan karena banyak warga yang tertarik untuk menjadi nasabah. Untuk sampah non-organik seperti kardus dan plastik, menjadi tabungan. Sedangkan untuk sampah organik sifatnya dihibahkan. 

Untuk sampah non-organik yang bernilai ekonomis, atas pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Depok, direferensikan untuk dijual ke pusat daur ulang, lapak penampuangan sampah terdekat atau berjasama dengan para pengrajin daur ulang sampah. Untuk sampah organik dikembangkan menjadi media tanam dengan dicampurkan bahan organik lainnya. 

Tabungan sampah ini, yang dicatatkan dalam sebuah buku, bisa diambil oleh warga yang menjadi nasabah saat mereka membutuhkannya. Misalnya, bersamaan dengan kenaikan sekolah atau Hari Raya Idul Fitri. Namun prinsipnya, uang tabungan sampah itu bisa diambil kapan saja oleh nasabahnya.

Berdasarkan pengalaman selama ini, warga yang menabung sampah selama kurun waktu 6 bulan sampai 12 bulan bisa mendapatkan antara Rp300.000 sampai Rp700.000. Tentu saja hasil tabungan ini sangat membantu warga, entah untuk pembelian kebutuhan sekolah anak-anaknya atau menambah dana saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

 

Titik Balik Akibat Pandemi

Bank sampah baru beberapa bulan beroperasi, terjadi wabah Covid-19 pada awal 2020. Pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan bergerak dan interaksi dengan orang lain untuk mencegah meluasnya penularan wabah. Kebijakan pemerintah berupa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) itu berdampak pada operasional Bank Sampah Bersih Istiqomah. 

Kebijakan pengetatan itu membuat bank sampah vacum selama kurang lebih satu tahun pertama pandemi, Bank Sampah Bersih Istiqomah kembali beroperasi pada tahun 2021. Kepengurusan bank sampah juga bertambah dengan masuknya wajah baru dalam susunan kepengurusan. Sejumlah pengurus lama mundur pada masa pandemi karena alasan kesehatan.

Tahun 2021 bisa disebut sebagai titik balik bagi Bank Sampah Bersih Istiqomah dengan masuknya pengurus baru yang laki-laki setelah sebelumnya banyak diisi oleh perempuan. Pengurus baru itu antara lain Hanur Basyit Zamiat dan Dedi Hermawan (logistik) Agus Kamaludin (sekertaris 2). Penambahan personel baru ini sangat diperlukan karena semakin meningkatnya jumlah sampah yang dikelola, yaitu rata-rata 50 kg per bulan. 

Tahun berikutnya, 2022, Bank Sampah Bersih Istiqomah sudah bisa memberikan laba kepada para “pemegang saham” yang membeli kwitansi saat awal pendirian. Pada tahun yang sama bank sampah juga meningkatkan aktivitasnya di dunia digital, dengan membuat akun di media sosial Instagram. Tujuan utamanya adalah memperluas jaringan sekaligus memperkenalkan lagi Bank Sampah Bersih Istiqomah.

Di tahun yang sama Bank Sampah Bersih Istiqomah bergabung dengan Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), wadah perkumpulan bank sampah Indonesia. Pada bulan November 2022 itu juga ada kunjungan dari WWF-Indonesia ke ASOBSI, dan menyampaikan kabar soal adanya peluang bantuan untuk mengajukan proposal kegiatan bank sampah melalui Plastic Smart Cities (PSC). 

Bank Sampah Bersih Istiqomah bertemu dengan WWF-Indonesia saat bertemu ASOBSI itu. Akhirnya Bank Sampah Bersih Istiqomah mengajukan permohonan dengan mengirimkan pra-proposal April 2023 dan finalisasi proposal dilakukan Juli 2023. Ada sejumlah permohonan bantuan yang diajukan. Di antaranya pendampingan kegiatan pelatihan, operasional bank sampah seperti kendaraan bermotor dan mesin press plastik. 

Kebutuhan lain yang juga diajukan adalah peralatan bank sampah dan peralatan perlindungan diri, sarana penampungan sampah dan perlengkapan kantor, biaya staff dan operasional kantor. Sebagian besar dari permohonan itu disetujui oleh WWF-Indonesia. Untuk kendaraan operasional, yang diajukan adalah kendaraan bermotor karena banyak nasabah bank sampahnya berada di jalan atau gang kecil. 

Perlengkapan lain yang juga diberikan oleh WWF-Indonesia melalui program PSC ini adalah rak penyimpanan sampah. Sebab, sampah yang dikumpulkan dari nasabah itu tidak bisa langsung terjual. Sehingga bank sampah perlu tempat penyimpanan tersendiri sebelum menjual sampah tersebut. 

Sampah yang dikumpulkan oleh bank sampah itu sebagian dijual ke bank sampah milik pemerintah Depok. Sebagian lainnya dijual kepada pengrajin yang menggunakan bahan daur ulang sampah non-organik. Ada juga sebagian yang disedekahkan kepada pengrajin yang menggunakan bahan mentah dari sampah non-organik. 

Ada sejumlah perubahan yang terjadi dalam Bank Sampah Bersih Istiqomah. Jumlah nasabahnya juga terus bertambah. Sebelumnya nasabahnya 403 kepala keluarga, tahun 2023 sudah menjadi 427 kepala keluarga. Jumlah nasabah bank sampah sub unit juga naik dari 28 menjadi 30 sub unit. Omset kotor bank sampah berkisar antara 8 sampai 10 juta dalam sebulan. 

Seperti halnya bank sampah di tempat lain, juga ada fungsi edukasi yang dilakukan. Pengurus bank sampah biasanya diundang untuk memberikan materi soal pengelolaan dan pengolahan sampah. Kadang-kadang pengurus juga menawarkan diri untuk datang ke sebuah tempat untuk sosialisasi. Selain untuk menularkan pengetahuan, juga ada manfaat ekonominya: memperluas jaringan dan menambah nasabah. 

Sosialisasi dan edukasi yang selama ini sudah dilakukan adalah ke sekolah, komunitas warga (rukun tetangga dan rukun warga) dan juga kelompok bisnis seperti perkantoran, kafe, dan restoran. Menurut taksiran pengurus, mereka bisa memberikan sosialisasi semacam itu setidaknya dua kali dalam sebulan.

Bank Sampah Bersih Istiqomah juga sudah memiliki fasilitas untuk melakukan pengolahan sampah meski belum lengkap. Sebagian besar peralatan yang dimiliki itu berasal dari WWF-Indonesia melalui program PSC. Beberapa peralatan pengolahan sampah yang sudah tersedia adalah mesin press. 

Namun mesin press ini masih belum bisa dioperasionalkan karena memerlukan daya listrik yang tinggi. Pengurus bank sampah menargetkan masalah daya listrik ini bisa diselesaikan tahun ini. Bank Sampah Bersih Istiqomah bisa mengembangkan dari sisi pengolahan sampah, bukan hanya mengelola sampah. 

Selama ini Bank Sampah Bersih Istiqomah sudah melakukan upaya pengolahan itu. Misalnya, mengolah sampah organik agar bisa memberi manfaat. Namun upaya itu masih belum sampai pada taraf komersial. Misalnya, menjadikan sampah organik sebagai media tanam setelah sebelumnya dicampur dengan kotoran hewan, eco-enzim dan semacamnya. 

Bank sampah juga sudah mulai mengolah sampah dari limbah kulit buah dan batang sayur sebagai bahan dasar untuk membuat aneka macam sabun. Mulai dari sabun basuh, sabun cuci piring, deodoran, dan sabun mandi. Barang-barang ini sudah mulai diproduksi namun masih sebatas untuk barter dengan nasabah. 

Pengembangan berikutnya yang disiapkan Bank Sampah Bersih Istiqomah adalah mengolah sampah non-organik menjadi barang-barang yang bisa lebih bermanfaat bagi nasabah dan mendatangkan keuntungan bagi bank sampah. Pengurus juga juga berkeinginan ada bisnis lain yang bisa mendukung operasional bank sampah agar lebih terjaga keberlanjutannya.

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya
Publikasi Lainnya