Diterbitkan pada 23 August 2023
Admin
BAHAYA, 14 TITIK HULU KE HILIR SUNGAI CILIWUNG TERPAPAR SAMPAH MIKROPLASTIK
Source: -
Bagikan

Jakarta: Di kehidupan modern ini, semakin sulit melepaskan diri dari penggunaan plastik dan produksi sampah plastik. Pasalnya, plastik telah menjadi bagian dari keseharian manusia, yang mendukung kenyamanan, efektivitas, serta efisiensi dalam berbagai aspek.
 
Namun mirisnya, sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan masalah yang sangat besar bagi lingkungan. Kenyataannya, polusi sampah plastik tak pelak telah menjadi isu global dan salah satu isu lingkungan yang sentral di Indonesia.
 
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), setiap harinya kehidupan dan aktivitas manusia menghasilkan volume timbunan sampah sebanyak 71.688,84 ton. Dengan volume sampah plastik menduduki peringkat kedua terbanyak setelah sampah sisa makanan.

Ditambah kini, dihadapkan tantangan baru dalam wujud turunannya, yaitu sampah mikroplastik. Jenis sampah in tidak kalah membahayakannya bagi lingkungan dan keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk.
 
WWF-Indonesia Footprint Lead, Tri Agung Rooswiadji, menjelaskan, sampah mikroplastik merupakan fragmen kecil plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter. Mikroplastik umumnya terbagi dalam dua jenis, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder.

 

Ancaman Sampah Mikroplastik

Mikroplastik primer adalah mikroplastik yang sengaja diproduksi dalam bentuk kecil (mikro). Sedangkan, mikroplastik sekunder merupakan mikroplastik hasil degradasi dari plastik yang berukuran lebih besar yang tercecer di lingkungan dan kemudian berubah bentuk.
 
Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi suhu tinggi, sinar matahari, limpasan air, angin dan organisme pendegradasi plastik. Mikroplastik umumnya dilepaskan selama produksi, penggunaan, dan pembuangan produk-produk plastik. Sehingga bisa dikatakan tidak ada satu tempat pun yang terbebas dari partikel mikroplastik yang sangat kecil. 
 
Tri menjabarkan, sampah mikroplastik berasal dari berbagai sumber, termasuk limbah industri, pembuangan sampah yang tidak sesuai, dan degradasi plastik yang lebih besar. Ukurannya yang super kecil, membuat sampah jenis ini lebih mudah menyebar ke berbagai lingkungan, termasuk perairan dan tanah di Indonesia.
 
Program Plastic Smart Cities WWF, dalam penelitian Audit Merek Sampah Plastik pada Sungai Ciliwung di Jakarta  Bogor, Depok yang dilakukannya bersama dengan Ecoton pada 2022 lalu, menemukan kelimpahan mikroplastik di perairan Sungai Ciliwung dengan rata-rata sebanyak 4,55 partikel/liter.
 
"Fakta ini berkebalikan dari target pemerintah yang tertera pada lampiran 6 PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang PPLH yang menyebutkan bahwa baku mutu sungai harus nihil sampah," kata Tri di Jakarta, Rabu, 23 Agustus 2023.
 
Penelitian tersebut dilakukan di 14 titik sepanjang jalur hulu ke hilir Sungai Ciliwung. Yaitu Mata Air Kahuripan, Mata Air Cikemas, dan Wisata Saat Bogor, Kabupaten Bogor; Barangnangsiang dan Bendungan Katulampa di Kota Bogor; Jembatan Panus, Kampung Utan, dan Mata Air Dekat KCD di Depok; Sekolah Sungai Jagakarsa, Bidara Cina, Tugu Tani, Pintu Air Manggarai, Kota Tua, dan Ancol di DKI Jakarta.

 

Bahaya Sampah Mikroplastik

Tri melanjutkan bahaya sampah mikroplastik menyebabkan kerusakan ekosistem laut. Organisme seperti ikan, burung laut, dan mamalia laut seringkali mengira mikroplastik sebagai sumber makanan dan memakan partikel tersebut. Hal ini dapat mengganggu sistem pencernaan mereka, menyebabkan gangguan reproduksi, dan bahkan menyebabkan kematian.
 
Kedua, mikroplastik juga mencemari perairan di Indonesia. Partikel-partikel plastik ini menumpuk di sungai, danau, dan pantai, merusak keindahan alam dan keanekaragaman hayati.
 
Mikroplastik yang telah terakumulasi di lingkungan akan memengaruhi kesehatan lingkungan serta biota yang ada di dalamnya karena dapat menyerap dan mengangkut bahan kimia beracun di lingkungan menuju rantai makanan manusia.
 
Karena mikroplastik dapat mengangkut bahan kimia beracun menuju rantai makanan, maka tentunya secara otomatis dapat mengkontaminasi makanan yang dikonsumsi oleh manusia dan memberi dampak negatif pada kesehatan. Selain itu kontaminasi mikroplastik juga dapat terjadi melalui udara.
 
"Paparan jangka panjang terhadap mikroplastik dapat menyebabkan penyakit gangguan hormonal, peradangan, dan masalah pernapasan. Pada Ibu hamil, paparan mikroplastik dapat
menyebabkan berkurangnya berat testis pada calon bayinya, merusak sel epitel pada reproduksi dan penurunan jumlah sperma," jelas Tri.
 
Mikroplastik yang berterbangan juga mampu mendorong nukleasi es. Mikroplastik pada atmosfer juga dapat menangkap radiasi inframerah dari permukaan bumi dan mendorong pembentukan awan dan perubahan iklim.
 
"Mikroplastik di udara juga diketahui telah menembus salju di gletser, sehingga berpotensi berdampak pada penyerapan cahaya. Melalui fenomena tersebut, mikroplastik dapat menembus serta memengaruhi lapisan es yang dilepaskan ke sungai dan Samudra Arktik dengan mempercepat pencairan lapisan es," tutupnya.

 

Artikel ini sudah dipublikasikan di https://www.medcom.id/nasional/daerah/VNx0EwqN-bahaya-14-titik-hulu-ke-hilir-sungai-ciliwung-terpapar-sampah-mikroplastik

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya
Publikasi Lainnya