Diterbitkan pada 27 September 2023
Admin
YOUTH ACTIVIST, CARA ASIK KURANGI SAMPAH PLASTIK
Source: -
Bagikan

Pagi itu ada 20 anak muda berkumpul di tepi Ciliwung yang melintasi dua provinsi padat di Tanah Jawa, Jawa Barat dan DKI Jakarta. Sebagian dari mereka duduk santai sembari bercengkrama. Ada yang menyesap kopi, namun banyak pula yang sibuk menyiapkan perahu karet. Satu di antara anak muda itu tampak bersemangat memompa angin agar perahu karet dapat mengembang.

Muda-mudi yang rela bangun pagi itu seperti sudah tak sabar untuk mengarungi Ciliwung. Sungai yang berhulu di kawasan Cibulao, Bogor telah menarik perhatian mereka. Bermula di sudut kota hujan, kaum milenial sudah siap memberikan pandangan mata atas kondisi terkini sungai yang bermuara di Laut Jakarta.

Perlahan perahu karet dikayuh. Pengarungan pun dimulai. Air cokelat tampak beriak, terkena ayunan dayung. Belum seberapa jauh dari titik awal penelusuran, pengarung dadakan ini sudah dibuat sibuk membersihkan dayung. Sampah-sampah plastik tak mau kompromi, menempel di dayung.

“Ahh! Kita dapet sprei kasur nih!” teriak Aurelie Moermans. Jari telunjuknya mengarah ke seprai ukuran king yang tersangkut membentang di sebuah batu besar. Artis berkulit putih bersih tampak terkejut. Asal tahu saja, WWF-Indonesia memang sengaja mengajak serta aktris papan atas Tanah Air ini “mencicipi” air cokelat Ciliwung. Alih-alih menikmati, mata Aurelie malah kian membelalak.

“Wah! Ada ‘monster’ plastik!” pekik aktris kelahiran tahun 1993. Dia menunjuk sampah-sampah plastik. Sisa bungkus yang tak terurai ini menyangkut di akar-akar pohon yang menghujam tepian sungai. Sejurus kemudian, Aurelie tampak asyik berswafoto di depan “monster” itu. Bukan hanya sampah plastik yang ditemui sepanjang jalan, kotoran manusia juga kadang melintas.

Apabila kita telusuri, sampah plastik yang membuat mata Aurelie terbelalak bukan kisah yang baru. Di Indonesia angka sampah mencapai 175.000 ton per hari, khusus DKI Jakarta saja 7.000-7.500 ton per hari mengelontor ke Ciliwung. Dari jumlah tersebut sekitar seperempatnya adalah sampah plastik.

Pada 2022 penelitian Waste4Change menunjukkan setidaknya ada 87,52 persen atau 244,72 ton per hari timbulan sampah plastik fleksibel di wilayah DKI Jakarta, yang masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Dari total tersebut, hanya 2,99 persen plastik fleksibel yang didaur ulang, 0,78 persen diproses di PLTS, dan 8,72 persen tidak terkelola dan dapat berakhir masuk ke sungai.

Jumlah sampah Jakarta dalam dua hari, tumpukannya setara dengan Candi Borobudur. Fakta yang bikin tercengang itu membuat hati miris. Lantas, apakah masalah sampah plastik mampu menarik perhatian kaum muda Indonesia? Rupanya, untuk mengurangi sampah plastik yang masuk ke alam dan dikonsumsi oleh mamalia laut. Ini diperkuat dengan data dari Wageningen University tahun 2018 yang menunjukkan 20.000 barang berbahan plastik ukuran lima milimeter masuk ke Laut Jawa setiap jam. WWF-Indonesia melalui program Plastic Smart City (PSC) berupaya mengurangi sampah plastik yang masuk ke alam sebanyak 30 persen di Kota Jakarta, Bogor dan Depok. Selain bekerja dengan Bank Sampah, program ini juga difokuskan pada kaum muda yang memiliki hasrat untuk mengurangi konsumsi sampah plastik tapi masing bingung mulai dari mana. Namanya, program Youth Activist (YA).

Program itu dimulai dari banyaknya voluntir WWF-Indonesia yang mayoritas kaum muda yang ingin berpartisipasi mengurangi sampah plastik. Kemudian kami merancang program bersama Yayasan Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) untuk membangun peta jalan bagi individu khususnya kaum muda yang ingin mengurangi konsumsi plastik dalam kehidupan sehari-hari. Diantara peta jalan tersebut, audit sampah plastik di individu dilakukan untuk mengetahui jumlah konsumsi plastik sebelum mengikuti program ini. Hasilnya nanti dibandingkan di bagian akhir, dan ketemu jumlah konsumsi plastik yang dihasilkan selama program ini berlangsung, yaitu enam bulan.

Program ini membagi dua, yaitu mentor dan aktivis kaum muda. Mentor ini adalah kaum muda dengan usia 25-35 tahun yang akan membimbing adik-adiknya yang lebih muda. Pada batch pertama, dibuka pendaftaran mentor melalui media sosial. Awalnya, peminat mentor yang masuk sebanyak 100 orang, dan diseleksi menjadi 20 orang. Seleksi ketat ini dilakukan untuk melihat komitmen para mentor, karena adanya janji waktu yang terpakai dalam proses pendampingan. Dari 20 mentor ini, kami melakukan pelatihan secara luring, cara-cara audit sampah plastik, mengelola sampah organik dengan metode keranjang Takakura, public speaking, dan lain-lain.

Pada batch 1, 200 kaum muda yang mendaftarkan diri sebagai Youth Activist. Setelah melalui proses wawancara, panitia menyaringnya menjadi sekitar 149 orang saja. Pembatasan ini dilakukan karena terbatasnya jumlah mentor dan tenaga untuk mengeloa program ini. Untuk pendampingan youth activist, satu mentor bertanggung jawab mendampingi 5-7 orang YA. Setelah dipasangkan dengan mentornya, beberapa tugas sudah menanti, dan tiap 2 minggu program ini dilakukan melalui daring. Mentor juga bertugas mengecek YA dampingan dalam melakukan tugas-tugas yang diberikan.

Salah seorang anggota YA adalah Dwininta Puspitasari atau panggilan akrab Pita. Perempuan yang berumur 24 tahun ini bercerita awalnya memang sudah sadar untuk mengurangi sampah plastik, tapi masih bingung memulai. Pita bercerita awal mulanya tersadar ketika melihat berita beberapa paus mati terdampar. “Pas dibelah (otopsi) itu dalam perutnya ada sekitar 1 ton sampah plastik,” ujar Phita sambil menutup wajahnya. “Dari situ, aku berpikir bisa jadi salah satu plastik yang ada dalam perut paus itu adalah sampah aku”, lanjutnya dengan muka sedih.

Kemudian mulailah Pita mencari bagaimana cara mengurangi sampah plastik untuk individu, ada beberapa informasi yang ditemukan, namun tetap saja sulit untuk melakukannya. Dalam perjalanan tersebut, Pita melihat sosial media WWF-Indonesia yang mencari beberapa kaum muda yang berminat untuk mengikuti program Youth Activist ini. “Wah, pas banget,” kata Pita. Tanpa pikir panjang Pita langsung mendaftar, dan setelah melalui wawancara akhirnya diterima.

Bersama 149 orang YA, Pita memulai perjalanannya untuk mengurangi sampah plastik. Dimulai program ini dengan penyampaian fakta-fakta mengapa sih harus mengurangi sampah plastik, jenis-jenis sampah plastik, yaitu singlelayer, multilayer. Multilayer ini adalah plastik yang paling susah untuk dikelola, contohnya bungkus makanan yang di bagian dalam berwarna metalik. Sampah jenis ini harus dipisahkan terlebih dahulu lapisannya baru bisa dikelola. Lanjutnya adalah bagian penting, yaitu audit individu konsumsi sampah plastik.

Audit ini dilakukan untuk mengetahui konsumsi atau penggunaan plastik dalam kebiasaan sehari-hari. Dalam kegiatan sehari-hari para muda mudi aktivis ini harus menghitung dan memfoto jenis plastik yang telah digunakan selama 1 minggu. Setelah 1 minggu, maka didapatkan angka jumlah dan berat plastik hasil konsumsi. Setelah itu, mulailah pengurangan sampah plastik, dengan cara membawa botol minum, tempat makan lengkap dengan alat makannya dalam setiap aktivitas. Angka ini kemudian akan dibandingkan dengan hasil akhir program YA atau selama 3 bulan, dan didapat berapa angka pengurangannya.

“Awalnya berat,” Ujar Pita. Lanjutnya,”Godaannya banyak, temanlah ngajak jajan dengan pakai plastik. Terus kalau tempat makan saya sudah kotor, gag bisa jajan yang lain lagi karena belum sempat dicuci atau malah lupa bawa”. Pita mengaku, kadang ia juga masih tergoda untuk jajan pakai plastik contohnya mie instan, “Tetapi lama kelamaan tuh malu sendiri, karena kita berada di lingkungan teman-teman aktivis lingkungan yang emang semangat banget mengurangi sampah plastik,” terangnya berbinar-binar menjelaskan. “Pokoknya sekarang kemana-mana bawa tumbler dan wadah makanan. Juga, aku mulai ngajakin orang-orang di rumah misahin sampah plastiknya”, ujar Pita menambahkan. Program YA, tahun 2023 ini memasukin batch 2, dan Pita mendaftar lagi, namun sekarang naik kelas, jadi mentor.

Angka akhir pengurangan plastik dalam program batch 1 ini adalah 56.7 persen, angka ini didapat dari total audit 1 (baseline) adalah 10.76 kg, semetara total audit 2 adalah 4.6 kg , artinya berkurang sekitar 6 kg dalam waktu 1 minggu. Kemudian program pengurangan ini dibuat lebih panjang, yaitu 3 bulan, hasilnya 56,7 kg sampah plastik berhasil dikurangi. Angka ini memang kecil, namun ini bukan tujuan akhir, perubahan perilaku para anggotanya lebih penting. Jika saja, seluruh kaum muda di Jakarta, Bogor dan Depok ikut program ini, jumlah sampah plastik yang akan dikurangi sebesar 248 ton per hari. Artinya, paling tidak program ini dapat mengurangi sampah plastik yang masuk ke alam termasuk Sungai Ciliwung.

 

Artikel ini sudah dipublikasikan di https://retizen.republika.co.id/posts/237847/youth-activist-cara-asik-kurangi-sampah-plastik

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya
Publikasi Lainnya