Diterbitkan pada 07 December 2022
Admin
KELOLA SAMPAH ORGANIK DENGAN BUDIDAYA MAGGOT
Source: -
Bagikan

Setiap pukul sepuluh pagi, Wahyu mendorong gerobak sorong berkeliling komplek perumahan Sukadamai Green Residence. Ia mendatangi sebelas titik tong sampah berwarna biru di perumahan tersebut. Satu per satu ia buka tong sampah itu, kemudian mengeluarkan sampah organik dari dalamnya untuk kemudian dimasukan ke dalam gerobak sorong. Sisa makanan, sayur-sayuran, buah-buahan, dan lain sebagainya bisa dengan mudah ia temui di dalam tong sampah tersebut.  

Warga di perumahan tersebut memang sudah terbiasa memilah sampah sejak dari rumahnya. Sampah organik dan anorganik dibuang di tempat terpisah. Untuk sampah organik, dibuang di tong berwarna biru. Sementara yang lainnya, di tong terpisah. Setiap satu tong berwarna biru, dikhususkan untuk enam rumah yang ada di sekitarnya. Jumlah total hunian di perumahan tersebut sendiri ada 50 unit. 

Setelah semua titik ia datangi dan sampah organik dalam gerobak sorongnya penuh, ia kemudian membawanya ke tempat pengolahan sampah terpadu. Letaknya persis di belakang perumahan tersebut. Sistem pengolahan sampah di wilayah itu dirancang terpadu. Ia dibangun atas bantuan program Plastic Smart Cities (PSC). 

“Lumayan banyak nih hari ini sampah organiknya,” ujar Wahyu. 

Dulu menurutnya, warga tidak terbiasa untuk memilah sampah. Organik dan anorganik dicampur begitu saja dalam satu tempat. Akibatnya, sampah menumpuk dan seringkali menimbulkan bau menyengat.  

“Ini sampahnya dipilah dulu. Kalau ada daun-daunan, kulit buah, itu kita pisahkan dulu. Apalagi kalau masih ada plastiknya, ya kita pisahkan juga,” katanya. 

Setelah proses sortir dilakukan, ia kemudian membawa kotak biopon, sebuah kotak persegi berwarna biru berukuran 40x60 cm. Sampah organik itu kemudian diaduk, dan siap untuk menjadi pakan maggot. Tangan Wahyu begitu terampil mengaduk sampah organik tersebut, satu per satu kotak biopon segera terisi penuh. 

“Tuh lihat maggotnya, rakus makan sampah organiknya. Ini sampahnya akan cepat habis,” ujarnya. 

Maggot adalah larva dari serangga Black Soldier Fly (BSF). Budidaya maggot menjadi pilihan alternatif yang cukup efektif untuk mengurai sampah organik.  

“Di sini siklus maggotnya sudah 35 kg,” kata aktivis Satgas Naturalisasi Sungai Ciliwung, Irfan Hauri Zakaria. Ia sejak alma mendampingi petugas kebersihan di perumahan tersebut untuk mengelola sampahnya dengan lebih baik. 

Lebih lanjut Irfan mengatakan, untuk bisa mengolah sampah organik melalui budidaya maggot, harus disiapkan indukannya terlebih dahulu. Di samping tempat pengolahan sampah itu, terdapat sebuah bangunan persegi terbuat dari kayu dengan dilapisi jaring yang rapat. Irfan menyebut tempat itu sebagai “Bilik Asmara”, ia tempat lalat BSF untuk berkembangbiak.  

“Lalat BSF setelah berkembangbiak itu akan langsung mati. Nah sebelum mati, si betinanya akan menyimpan telur baby maggot di celah tumpukan kayu,” katanya.   

Telur baby maggot itu kemudian harus disimpan selama satu minggu. Ketika maggotnya sudah dewasa, baru kemudian dimasukan ke dalam kotak biopon. Masing-masing kotak biopon akan terisi 3kg maggot dan mampu melahap sampah organik 2-4 kg per harinya. Sementara volume sampah organik harian di perumahan itu sekitar 40 kg.  

“Maggot yang ada di dalam bipon itu terus kita kasih pakan sampah organik  hingga 14 hari. Setelah itu, maggot kita panen. Tapi kita di sini tidak menjual maggotnya. Maggot yang dipanen akan disipakan untuk siklus selanjutnya,” katanya.   

Selain itu itu maggot yang dipanen juga akan disisihkan 30 persennya untuk pakan ayam dan ikan. Di samping tempat pengolahan sampah itu, terdapat kendang ayam petelur. Dari total sepuluh ekor ayam, per harinya bisa menghasilkan 1,5 kg telur. Untuk kebutuhan pakannya, disubstitusi dari maggot. Tak hanya itu, di perumahan tersebut juga terdapat kolam budidaya ikan yang pakannya juga sebagian dari maggot. 

“Menurut saya, budidaya maggot adalah metode pengurai sampah organik yang cukup efektif. Sebab sampah organik bisa langsung habis dimakan maggot dalam satu hari,” katanya. 

Selain itu, pengolahan sampah organik dengan maggot juga tidak menimbulkan bau yang menyengat. Tidak seperti Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang timbunan sampah organiknya cenderung dibiarkan begitu saja, menimbulkan bau tak sedap. 

“Tentu sampah organik yang masuk ke sini, akan disortir ulang oleh petugas kebersihan. Karena ada beberapa sampah organik yang memang tidak dimakan oleh maggot seeprti daun-daunan, daun pisang, kulit jeruk itu tidak akan habis full oleh maggot. Pasti akan ada sisanya. Nah untuk pengolahan sampah organik jenis itu, kita bedakan. Kita bisa olah menjadi pupuk kompos,” terangnya. 

Dalam budidaya maggot, lanjut Irfan, perlu diperhatikan tingkat kebasahan sampah organiknya. Sebab maggot cenderung enggan mengkonsumsi sampah organik yang terlalu basah. Pun tidak suka yang kering. Harus tetap stabil kelembabannya. Karena itu bisanya jika sampah organiknya terlalu basah, maka akan disaring terlebih dahulu.  

“Karena kalau dikasih air yang berlebihan di dalam biopon tersebut, maggot ini akan lari kemana-mana. Penyortiran di awal jadi kuncinya.”  

Ketika maggot dipanen, maka akan menyisakan kotoran. Ia disebut sebagai kasgot. Irfan bilang, kasgot juga bisa dimanfaatkan untuk dijadikan pupuk organik yang sangat berguna untuk menyuburkan tanaman.  

“Sebenarnya maggot ini kan ada nilai ekonomisnya. Tapi kalau untuk sebesar budidaya kita, itu sangat susah. Karena kapasitas produksi kita sangat kecil. Tetapi kalau untuk menjadi solusi sampah organik yang ada di sini, nah itu sangatlah efektif. Karena kita menyesuaikan dengan jumlah prioduksi sampah organik yang ada di sini. Mungkin ini bisa dijadikan solusi untuk teman-teman yang lain di luar yang memang mengetahui jumlah volume sampah organiknya. Di tingkat RT atau RW. Jadi ke depannya ya sampah organik tidak lagi dibawa ke TPA Galuga. Tetapi beres di skala pengolahan tingkat RT dengan maggot,” paparnya. 

Selain itu, jika produksi maggotnya cukup besar, ia juga bisa mendatangkan keuntungan ekonomi. Menurut Irfan, di Kota Bogor sendiri sudah banyak pihak yang mau membeli maggot. Baik maggot fresh maupun maggot kering.   

“Maggot ini sebenarnya banyak dicari oleh pembudidaya unggas. Salah satunya ayam. Ayam ini sangat bagus jika mengkonsumsi maggot tetapi tidak boleh berlebihan dalam konsumsinya. Sebab protein dalam maggot itu sangat tinggi. Tidak baik kalau dikonsumsi berlebihan,” katanya. 

Irfan bilang, pengolahan sampah organik melalui metode budidaya maggot, sejalan dengan konsep ekonomi sirkular. Selain bisa mengatasi persoalan sampah, ia juga bisa mendatangkan keuntungan materi. Satu kilogram maggot fresh biasanya bisa dijual Rp.7.000, sementara untuk maggot kering Rp.60 ribu.  

“Fresh maggot rata-rata diambil oleh para pemancing. Jadi bahan pokok untuk membuat umpan. Selain itu bisa juga diberikan ke dalam langsung untuk hewan ternak seperti ayam. Tetapi tahapannya itu dimatikan terlebih dahulu dengan disiram air panas.” 

Irfan mengatakan, jika konsep pengolahan sampah organik dengan budidaya maggot ini diterapkan di banyak tempat, maka permasalahan sampah biasa teratasi dengan baik.  

“Tapi tentu saja, pemilahan jadi kunci utama agar pengolahan sampahnya bisa berhasil,” tutupnya.***

Baca lengkap publikasi ini
Artikel Lainnya
Publikasi Lainnya